Umurku
sudah 32 tahun. Tapi belum saja mendapat pendamping yang cocok untuk menjadi
teman hidup selamanya. Sebenarnya aku malu terus terusan begini, tapi mau
dikata apa?
Sudah
puluhan kali aku berpacaran dengan gadis yang dilihat dari fisik cantik, juga
kaya malah, tapi ketika aku mengajak mereka pada jenjang yang lebih serius
mereka semua menolak mentah-mentah. Apa benar perasaan itu hanya untuk
dijadikan permainan belaka, cap sebagai lajang yang laku, ataukah? Ah, entahlah.
Aku cukup lelah untuk berpikir semua itu. Tapi aku pun tak bisa berdiam diri
juga ketika ibuku berusaha untuk mencarikan istri untukku. Aduh, lantas apa modalku
untuk meminang gadis pilihan ibuku? Cinta? Bullshit.
Tidak
ada yang mau menikah hanya bermodal cinta di zaman sekarang, di zaman
globalisasi yang serba materialis. Ibu memperkenalkan dia padaku dalam sebuah
foto. Alah, masih ada zaman perkenalan lewat foto? Foto bisa direkayasa.
Keinginan ku ga muluk ko bu, asal menerima aku apa adanya ini yanng masih kerja
musim, juga menyayangi ibu seperti ibu kandungnya sendiri.
Akhirnya...
Ayu
namanya calon istri yang akan menjadi teman hidupku kelak. Aku hanya disuguhkan
pas foto Ayu yang ibu minta dari orang tuanya. Pas foto? Emang mau melamar
kerja?
Wajahnya
unik brother! Hidungnya agak masuk, kulitnya tidak terlalu gelap, tapi yang
aneh adalah lehernya yang dillilit kerudung segitiga. Lah, berhijab tapi
membentuk leher. Zaman sudah edan.
“Bu,
gadis ini yang dijodohkan ibu untuk saya?” Ibu hanya mengangguk melihat raut wajahku
yang sinis. Jujur kalau aku mengikuti egoku, aku bisa mencari calon istri yang
lebih dari itu. But, ibu tuh yang menampakan wajah sendu yang tak bisa ku tolak.
Akhirnya..
Aku
dipertemukan dengan Ayu dipelaminan langsung ketika aku sudah mengucapkan ijab
qabul. Aku bisa melihat wajahnya. Yess. Akupun bingung mengapa aku bisa
mengalami hal seperti ini. Mimpi? Ga, aku sadar sesadar-sadarnya telah mengucap
janji sehidup semati itu.
Dengan
dibalut kain brukat sebagai gaun pengantinnya, dia tampak berbeda. Berbeda
sekali dengan foto yang pernah ibu tunjukan kepadaku. Aku takjub. Dia istriku?
Sejenak pikiran tentang mantan-mantanku yang lebih cantik dari Ayu itu sirna.
Tuhan boleh ku akui? Ia cantik. Ku tatap Ayu yang kini menjadi istriku disinggasana
pengantin. Dia tersenyum mengembang. Aryo sahabatku dari SD meledekku dengan
kata yang membuatku berubah warna kulit. Bunglon kali? Bukan. Maksudnnya
menjadi merona karena malu.
“Engkau
itu seperti makan makanan yang engkau benci, kemarin ketika kau cerita padaku,
kau menolak disandingkan dengan dia, tapi apa sekarang kau malah terpesona
dengan dia? Aihhh” ungkapnya. Alah, aku ga ngerti apa yang dibicarakan olehnya,
kata-katanya terlalu meninggi sobat.
Ku
jawab saja begini “Tak selamanya kita membenci makanan, kalau makanan itu
dibuat oleh orang yang kita sayang pasti makanan itu terasa sedap di lidah!”
kata ku sambil bergurau.
Akhirnya...
Setelah
beberapa jam kami berdua disandingkan diatas singgasana yang menarik perhatian
para tamu, seperti raja dan ratu di jam 6 petang kami singgah di kediaman
mertua. Walah baru saja aku menikmati perasaan sebagai raja, detik ini sudah
dikerubungi lagi oleh pikiran rumah tangga yang akan kubina sampai aku mati
nanti. Aku merasa minder saat mertua ku mempersilakan aku makan dan setelahnya
beristirahat di kamar pengantin. Lantas apa yang harus kulakukan untuk membalas
perhatian itu? Pekerjaan tetap tak punya, bagaimana bisa membahagiakan putri
yang baik hati ini?
Tak
lama setelah kami(Ayu dan aku) melakukan sholat, kami langsung berbicara serius
mengenai hal ini, afwan ya Yu, kalau tidak sekarang aku takut kau akan menyesal
nantinya.
“Ini
kali pertama aku berbicara dengan pengantinku.” Aku tersenyum melebar supaya
tak ada angin dingin disini. Ayu hanya mengangguk.
“Bolehkah
aku bertanya sesuatu sebelum amanah ini aku lakukan dalam hidupku dan
selamanya?” kataku lagi sambil berpikir kata yang pas supaya tidak menyinggung
perasaannya.
“Ya”
jawabnya singkat.
“Apa
kamu benar-benar menerima pernikahan ini ataukah hanya paksaan dariorang lain?
Padahal kamu sudah tahu kalau aku tidak punya pekerjaan yang tetap?”
“Sebetulnya,
sebelum menikah ada laki-laki yang sangat aku cintai...” katanya sambil
menunduk. Hah? Siapa? Jadi dia menyesal telah menikah denganku atau pernikahan
ini hanya sebatas ketundukannya pada seseorang?
“Jadi
kau menyesal menikah denganku?” aku mengerutkan dahi.
“Tentu
tidak.” Dia tidak menyelesaikan kata-katanya. Aku tambah penasaran. Aku hanya
diam dan menunggu ungkapan apa yang hendak ia keluarkan. “Karena laki-laki itu
adalah kamu”
Benarkah?
Walaupun kondisi ku seperti ini?
Terjadilah
percakapan yang sungguh luar biasa diantara kami. Yang membuat aku yakin dengan
ijab yang aku ucapkan tadi pagi. Kisah ini persis dengan kisah putri Rasulullah
Fatimah r.a dan Ali bin abi Thalib. Bukankah mereka saling mencintai walau
dalam diam. Dan Allah mempertemukan mereka dalam kondisi suci yaitu tali
pernikahan? Dan baru aku ketahui kalau apa yang diucapakan Ayu adalah ucapan
dari Fatimah r.a sendiri sampai-sampai aku merasa GR. Menurut Ayu, Fatimah r.a
adalah inspirasi hidupnya selain Rasulullah.
* * *
Dua
bulan setelah menikah alhamdulillah aku diterima bekerja disebuah bank
terkenal. Wah, hebat betul. Sarjana ekonomi gitu loh.
Tidak
mencapai satu jam setelah pengumuman itu, aku langsung pulang menemui istri
tercinta dan memberitahukan kabar bahagia itu. Tapi apa yang ditunjukan raut
muka jelita itu brother? Dia malah menampakan wajah kecewa dibubuhi senyum
tipis supaya suaminya ini tidak tahu mungkin. Ada apa ini?
“Kenapa
kamu ini suami dapat pekerjaan ko mukanya malah ditekuk?” aku langsung
mengeluarkan semburat kecewa padanya. Ayu tidak menjawab. Dia hanya
meninggalkanku dengan wajah muramnya itu.
Malam
harinya, dia menyiapkan makanan yang lezat, tidak seperti biasanya. Memang
karena pekerjaanku masih sambilan kami harus makan sederhana dan masih tinggal
di rumah orangtuaku. Ya, memang rumah itu milik orangtuaku. Tapi tidak satu
atap. Hanya bersebelahan, jadi ketika kami memiliki selisih pendapat orangtuaku
tidak mengetahuinya.
“Makanlah!”
katanya.
“Apa
ini hadiah karena aku mendapat pekerjaan?” aku tersenyum sedikit agak meledek
karena tadi Ayu muram dan sekarang menyiapkan makanan lezat. Ayu menggeleng.
“Lantas?”
aku mulai naik pitam. Apa ini maksudnya.
“Aa
makan dulu saja. Aa capai kan sudah mencari pekerjaan seharian ini. Setelah itu
kita ngobrol-ngobrol yuk!” ajak Ayu dengan wajah yang terasa bersinar itu. Ah,
aku makin tidak mengerti dengan jalan pikirannya. Aku anggukan kepala. Aku pun
makan.
“Baca
basmalah dulu a, supaya makanan ini bermanfaat bagi tubuh kita”. Aku
cengengesan.
Ayu
memang benar-benar ingin ngobrol. Setelah membereskan peralatan makan dan
mencucinya. Ayu menghampiri ku yang sedang merokok di depan rumah.
“A,
sholat isya dulu yuk!” ajaknya. Aku tak kuasa menolak, mengingat peranku kini
sebagai kepala rumah tangga.
Setelah
sholat, Ayu langsung menghampiri ku, dan mungkin inilah percakapan serius pertama dalam pernikahanku.
“A,
sebenarnya ana kurang setuju kalau Aa akhirnya bekerja di bank.” Akhirnya...
“Kenapa?”
“Ana
ga mau kita mencari rezeki dari Allah tapi jalannya haram a.”
“Hah,?
Omong kosong apa ini?” Aku yang sifatnya blak-blakan harus melontarkan
perkataan pedas pada istriku. Apa dia tidak menghargai aku sudah mencari
pekerjaan? Dan ketika aku sudah mendapatkannya dia malah menyuruhku untuk
melepas pekerjaan itu?
“A,
bukankah di Al-Quran sudah dijelaskan kalau haram untuk kita jika melakukan
riba. Ana bukannya ingin aa tidak memiliki pekerjaan, tapi ana ga mau pekerjaan
aa melibatkan sesuatu yang dilarang oleh Allah. Ana ingin setiap derap langkah
hidup kita memang dijalan Allah bukan malah menentang syariatnya. Supaya hidup
kita barakah dan menjadi pahala” ungkap istriku itu dengan panjang lebar. Aku
hanya bisa menganga. Itukah kendalanya? Aku baru mengetahui kalau bekerja di
bank itu haram. Bertahun-tahun aku belajar ekonomi lokal dan dunia tapi aku tak
dapat pengajaran itu.
“Bank
haram?”
“bukan
bank nya yang haram a, tapi sistem yang dipakainya. Yang lebih mengutamakan
riba.”
“Lalu
solusimu apa kalau aku tidak boleh bekerja di bank sebagai customer service?”
aku memotong pembicaraannya dengan nada sinis. Iya, aku langsung memintanya
memberi solusi. Omdo saja apa gunanya, kalau tidak ada jalan yang lain untuk
bekerja. Tidak disangka ia menjawab dengan sangat cepat, seperti tidak berpikir
sama sekali. Lagi-lagi dengan gerak-gerikyang tenang sekali.
“Pernah
dengar dengan sebutan muslim enterpeneur a? Sebutan itu yang dinobatkan umat
manusia pada Rasulullah. Sebelum menjadi Nabi, Muhammad Saw pernah menjadi
penggembala kan ya a. Maka dari itu, ana ingin melaksanakan sunnahnya.
Bagaimana kalau kita berdagang a?” Ayu tersenyum tanda ia bahagia.
“Kalau
itu maumu, lalu dari mana kita memulai untuk berdagang padahal kita tidak punya
modal” secepat kilat menyambar pepohonan, Ayu masuk ke kamar dan sejurus
kemudian ia telah disampingku lagi.
“Ini,
ana ada uang simpanan. Semoga cukup untuk memulai usaha kita.” Ayu lagi-lagi
tersenyum dengan gigi yang terlihat. Rupanya dia telah mengetahui kalau aku
sedikitnya menyepakati apa yang ingin ia lakukan untuk kehidupan kita.
“Dari,
mana kamu dapat uang ini?”aku celingukan tak percaya. Selama ini aku memberi
uang belanja seadanya.
“Sudah
sebulan ini ana ngambil dagangan dari tetangga untuk dijual ke sekolah-sekolah.
Dan alhamdulillah uang yang aa kasih akhirnya bisa ana sisihkan sebagian.”
Ahh,
entahlah apa yang harus ku ucapkan akhirnya. Kagum? Entahlah! Yang bisa aku
ungkapkan sekarang adalah aku bersyukur telah menikah. Terima kasih. Engkau
telah menaklukan hatiku agar hati ini selalu tertambat kepada-Nya. Selain
mendapat ilmu yang tidak ku ketahui dan ingin melahap lagi ilmu yang lain, pun
dapat memahami bagaimana mempunyai pendamping yang hebat. Seperti Ayu.





