Jumat, 13 Desember 2013

Akhirnya : pendamping yang hebat

Umurku sudah 32 tahun. Tapi belum saja mendapat pendamping yang cocok untuk menjadi teman hidup selamanya. Sebenarnya aku malu terus terusan begini, tapi mau dikata apa?
Sudah puluhan kali aku berpacaran dengan gadis yang dilihat dari fisik cantik, juga kaya malah, tapi ketika aku mengajak mereka pada jenjang yang lebih serius mereka semua menolak mentah-mentah. Apa benar perasaan itu hanya untuk dijadikan permainan belaka, cap sebagai lajang yang laku, ataukah? Ah, entahlah. Aku cukup lelah untuk berpikir semua itu. Tapi aku pun tak bisa berdiam diri juga ketika ibuku berusaha untuk mencarikan istri untukku. Aduh, lantas apa modalku untuk meminang gadis pilihan ibuku? Cinta? Bullshit.
Tidak ada yang mau menikah hanya bermodal cinta di zaman sekarang, di zaman globalisasi yang serba materialis. Ibu memperkenalkan dia padaku dalam sebuah foto. Alah, masih ada zaman perkenalan lewat foto? Foto bisa direkayasa. Keinginan ku ga muluk ko bu, asal menerima aku apa adanya ini yanng masih kerja musim, juga menyayangi ibu seperti ibu kandungnya sendiri.
Akhirnya...
Ayu namanya calon istri yang akan menjadi teman hidupku kelak. Aku hanya disuguhkan pas foto Ayu yang ibu minta dari orang tuanya. Pas foto? Emang mau melamar kerja?
Wajahnya unik brother! Hidungnya agak masuk, kulitnya tidak terlalu gelap, tapi yang aneh adalah lehernya yang dillilit kerudung segitiga. Lah, berhijab tapi membentuk leher. Zaman sudah edan.
“Bu, gadis ini yang dijodohkan ibu untuk saya?” Ibu hanya mengangguk melihat raut wajahku yang sinis. Jujur kalau aku mengikuti egoku, aku bisa mencari calon istri yang lebih dari itu. But, ibu tuh yang menampakan wajah sendu yang tak bisa  ku tolak.
Akhirnya..
Aku dipertemukan dengan Ayu dipelaminan langsung ketika aku sudah mengucapkan ijab qabul. Aku bisa melihat wajahnya. Yess. Akupun bingung mengapa aku bisa mengalami hal seperti ini. Mimpi? Ga, aku sadar sesadar-sadarnya telah mengucap janji sehidup semati itu.
Dengan dibalut kain brukat sebagai gaun pengantinnya, dia tampak berbeda. Berbeda sekali dengan foto yang pernah ibu tunjukan kepadaku. Aku takjub. Dia istriku? Sejenak pikiran tentang mantan-mantanku yang lebih cantik dari Ayu itu sirna. Tuhan boleh ku akui? Ia cantik. Ku tatap Ayu yang kini menjadi istriku disinggasana pengantin. Dia tersenyum mengembang. Aryo sahabatku dari SD meledekku dengan kata yang membuatku berubah warna kulit. Bunglon kali? Bukan. Maksudnnya menjadi merona karena malu.
“Engkau itu seperti makan makanan yang engkau benci, kemarin ketika kau cerita padaku, kau menolak disandingkan dengan dia, tapi apa sekarang kau malah terpesona dengan dia? Aihhh” ungkapnya. Alah, aku ga ngerti apa yang dibicarakan olehnya, kata-katanya terlalu meninggi sobat.
Ku jawab saja begini “Tak selamanya kita membenci makanan, kalau makanan itu dibuat oleh orang yang kita sayang pasti makanan itu terasa sedap di lidah!” kata ku sambil bergurau.
Akhirnya...
Setelah beberapa jam kami berdua disandingkan diatas singgasana yang menarik perhatian para tamu, seperti raja dan ratu di jam 6 petang kami singgah di kediaman mertua. Walah baru saja aku menikmati perasaan sebagai raja, detik ini sudah dikerubungi lagi oleh pikiran rumah tangga yang akan kubina sampai aku mati nanti. Aku merasa minder saat mertua ku mempersilakan aku makan dan setelahnya beristirahat di kamar pengantin. Lantas apa yang harus kulakukan untuk membalas perhatian itu? Pekerjaan tetap tak punya, bagaimana bisa membahagiakan putri yang baik hati ini?
Tak lama setelah kami(Ayu dan aku) melakukan sholat, kami langsung berbicara serius mengenai hal ini, afwan ya Yu, kalau tidak sekarang aku takut kau akan menyesal nantinya.
“Ini kali pertama aku berbicara dengan pengantinku.” Aku tersenyum melebar supaya tak ada angin dingin disini. Ayu hanya mengangguk.
“Bolehkah aku bertanya sesuatu sebelum amanah ini aku lakukan dalam hidupku dan selamanya?” kataku lagi sambil berpikir kata yang pas supaya tidak menyinggung perasaannya.
“Ya” jawabnya singkat.
“Apa kamu benar-benar menerima pernikahan ini ataukah hanya paksaan dariorang lain? Padahal kamu sudah tahu kalau aku tidak punya pekerjaan yang tetap?”
“Sebetulnya, sebelum menikah ada laki-laki yang sangat aku cintai...” katanya sambil menunduk. Hah? Siapa? Jadi dia menyesal telah menikah denganku atau pernikahan ini hanya sebatas ketundukannya pada seseorang?
“Jadi kau menyesal menikah denganku?” aku mengerutkan dahi.
“Tentu tidak.” Dia tidak menyelesaikan kata-katanya. Aku tambah penasaran. Aku hanya diam dan menunggu ungkapan apa yang hendak ia keluarkan. “Karena laki-laki itu adalah kamu”
Benarkah? Walaupun kondisi ku seperti ini?
Terjadilah percakapan yang sungguh luar biasa diantara kami. Yang membuat aku yakin dengan ijab yang aku ucapkan tadi pagi. Kisah ini persis dengan kisah putri Rasulullah Fatimah r.a dan Ali bin abi Thalib. Bukankah mereka saling mencintai walau dalam diam. Dan Allah mempertemukan mereka dalam kondisi suci yaitu tali pernikahan? Dan baru aku ketahui kalau apa yang diucapakan Ayu adalah ucapan dari Fatimah r.a sendiri sampai-sampai aku merasa GR. Menurut Ayu, Fatimah r.a adalah inspirasi hidupnya selain Rasulullah.
*                                  *                                  *
Dua bulan setelah menikah alhamdulillah aku diterima bekerja disebuah bank terkenal. Wah, hebat betul. Sarjana ekonomi gitu loh.
Tidak mencapai satu jam setelah pengumuman itu, aku langsung pulang menemui istri tercinta dan memberitahukan kabar bahagia itu. Tapi apa yang ditunjukan raut muka jelita itu brother? Dia malah menampakan wajah kecewa dibubuhi senyum tipis supaya suaminya ini tidak tahu mungkin. Ada apa ini?
“Kenapa kamu ini suami dapat pekerjaan ko mukanya malah ditekuk?” aku langsung mengeluarkan semburat kecewa padanya. Ayu tidak menjawab. Dia hanya meninggalkanku dengan wajah muramnya itu.
Malam harinya, dia menyiapkan makanan yang lezat, tidak seperti biasanya. Memang karena pekerjaanku masih sambilan kami harus makan sederhana dan masih tinggal di rumah orangtuaku. Ya, memang rumah itu milik orangtuaku. Tapi tidak satu atap. Hanya bersebelahan, jadi ketika kami memiliki selisih pendapat orangtuaku tidak mengetahuinya.
“Makanlah!” katanya.
“Apa ini hadiah karena aku mendapat pekerjaan?” aku tersenyum sedikit agak meledek karena tadi Ayu muram dan sekarang menyiapkan makanan lezat. Ayu menggeleng.
“Lantas?” aku mulai naik pitam. Apa ini maksudnya.
“Aa makan dulu saja. Aa capai kan sudah mencari pekerjaan seharian ini. Setelah itu kita ngobrol-ngobrol yuk!” ajak Ayu dengan wajah yang terasa bersinar itu. Ah, aku makin tidak mengerti dengan jalan pikirannya. Aku anggukan kepala. Aku pun makan.
“Baca basmalah dulu a, supaya makanan ini bermanfaat bagi tubuh kita”. Aku cengengesan.
Ayu memang benar-benar ingin ngobrol. Setelah membereskan peralatan makan dan mencucinya. Ayu menghampiri ku yang sedang merokok di depan rumah.
“A, sholat isya dulu yuk!” ajaknya. Aku tak kuasa menolak, mengingat peranku kini sebagai kepala rumah tangga.
Setelah sholat, Ayu langsung menghampiri ku, dan mungkin inilah percakapan  serius pertama dalam pernikahanku.
“A, sebenarnya ana kurang setuju kalau Aa akhirnya bekerja di bank.” Akhirnya...
“Kenapa?”
“Ana ga mau kita mencari rezeki dari Allah tapi jalannya haram a.”
“Hah,? Omong kosong apa ini?” Aku yang sifatnya blak-blakan harus melontarkan perkataan pedas pada istriku. Apa dia tidak menghargai aku sudah mencari pekerjaan? Dan ketika aku sudah mendapatkannya dia malah menyuruhku untuk melepas pekerjaan itu?
“A, bukankah di Al-Quran sudah dijelaskan kalau haram untuk kita jika melakukan riba. Ana bukannya ingin aa tidak memiliki pekerjaan, tapi ana ga mau pekerjaan aa melibatkan sesuatu yang dilarang oleh Allah. Ana ingin setiap derap langkah hidup kita memang dijalan Allah bukan malah menentang syariatnya. Supaya hidup kita barakah dan menjadi pahala” ungkap istriku itu dengan panjang lebar. Aku hanya bisa menganga. Itukah kendalanya? Aku baru mengetahui kalau bekerja di bank itu haram. Bertahun-tahun aku belajar ekonomi lokal dan dunia tapi aku tak dapat pengajaran itu.
“Bank haram?”
“bukan bank nya yang haram a, tapi sistem yang dipakainya. Yang lebih mengutamakan riba.”
“Lalu solusimu apa kalau aku tidak boleh bekerja di bank sebagai customer service?” aku memotong pembicaraannya dengan nada sinis. Iya, aku langsung memintanya memberi solusi. Omdo saja apa gunanya, kalau tidak ada jalan yang lain untuk bekerja. Tidak disangka ia menjawab dengan sangat cepat, seperti tidak berpikir sama sekali. Lagi-lagi dengan gerak-gerikyang tenang sekali.
“Pernah dengar dengan sebutan muslim enterpeneur a? Sebutan itu yang dinobatkan umat manusia pada Rasulullah. Sebelum menjadi Nabi, Muhammad Saw pernah menjadi penggembala kan ya a. Maka dari itu, ana ingin melaksanakan sunnahnya. Bagaimana kalau kita berdagang a?” Ayu tersenyum tanda ia bahagia.
“Kalau itu maumu, lalu dari mana kita memulai untuk berdagang padahal kita tidak punya modal” secepat kilat menyambar pepohonan, Ayu masuk ke kamar dan sejurus kemudian ia telah disampingku lagi.
“Ini, ana ada uang simpanan. Semoga cukup untuk memulai usaha kita.” Ayu lagi-lagi tersenyum dengan gigi yang terlihat. Rupanya dia telah mengetahui kalau aku sedikitnya menyepakati apa yang ingin ia lakukan untuk kehidupan kita.
“Dari, mana kamu dapat uang ini?”aku celingukan tak percaya. Selama ini aku memberi uang belanja seadanya.
“Sudah sebulan ini ana ngambil dagangan dari tetangga untuk dijual ke sekolah-sekolah. Dan alhamdulillah uang yang aa kasih akhirnya bisa ana sisihkan sebagian.”
Ahh, entahlah apa yang harus ku ucapkan akhirnya. Kagum? Entahlah! Yang bisa aku ungkapkan sekarang adalah aku bersyukur telah menikah. Terima kasih. Engkau telah menaklukan hatiku agar hati ini selalu tertambat kepada-Nya. Selain mendapat ilmu yang tidak ku ketahui dan ingin melahap lagi ilmu yang lain, pun dapat memahami bagaimana mempunyai pendamping yang hebat. Seperti Ayu.

Minggu, 08 Desember 2013

Tim Work


Ada yang bilang tim work itu ibarat sebuah kawanan burung yang melakukan migrasi ke suatu tempat. Tim ini lah yang akan membuat suatu kelompok dapat bekerja sama dengan mudah efisien dan berhasil mencapai tujuan yang di kehendaki. Dan saya belajar tentang semuanya dalam organisasi ini. Bukan, bukan organisasi yang melibatkan orang-orang yang ikut bisa terikat. Hanya sebagai partisipan saja.
Ah, hati. Siapa yang mengetahui betapa susahnya dikendalikan apalagi melibatkan egoisme. Seperti yang sekarang saya rasakan. Bukan bermaksud untuk merasa paling benar. Namun, bukankah harus ada aturan untuk membuat semuanya terlaksana dengan baik. Seperti halnya mengingatkan dalam progress kerja, komunikasi antar patner, sampai adanya laporan-laporan tentang biaya yang keluar yang ditalang oleh anggotanya. Dan saya tidak bisa merasakan hal ini dalam suatu acara yang telah kami buat ini.
Semua bekerja sendiri-sendiri. Kadang komunikasi antar patner pun tidak terjalin. Apakah mungkin karena ingin di lihat. Ah, terlalu naïf kalau saya harus bilang begitu.
Contoh lain pun terjadi sekarang. Bukan melibatkan saya sih. Bahkan saya mungkin tak perlu tahu. Tentang kekalapan tim sukses dari calon ketua senat yang tidak terima kalau calon yang di dukungnya tidak menang dalam musyawarah yang dilaksanakan malam hari hingga jam 2 malam. Harusnya tidak perlu mengwangwang dan menyebarkan berita yang tidak enak bukanke mahasiswa lainnya. Bukankah ini tandanya mereka itu benar-benar kalah dan tidak terima atas keputusan yang sudah nyata.
Semuanya mengingatkan aku pada materi kajian yang pernah aku ikuti. Benar adanya.
Ikatan maslahat. Yapz, ikatan ini akan hilang tatkala suatu tujuan sudah tercapai. Hilanglah silah ukhuwah yang terjalin antara anggotanya. Sebenarnya apaitu ikatan maslahat sehingga membubarkan masanya tatkala tujuan itu tercapai? Iya,sudah jelas bahwa ikatan ini terbentuk karena adanya ikatan manfaat. Aku temenan sama kamu ya karena itu anak nya pinter bisa di ajak nyontek. Misalnya begitulah. Ketika dia ga mau di ajak contek lagi maka putuslah hubungan dia dan aku.
Lalu, ikatan apa yang seharusnya terbentuk untuk menjaga semuanya berada di jalan yang benar? Ikatan mabda katanya. Aku pun belum paham mengenai ikatan ini apakah bisa di terapkan dalam agenda yang seperti saya lakukan saat ini?
Bisa ko. . .
Karena mabda khususon islam adalah mualajah musykilaah. Solusi dari berbagai masalah.
Ketika seseorang ridho dengan aktivitasnya hanya untuk Allah maka hal di atas bisa ditempas dengan mudah. Subhanalloh, tidak akan ada lagi problematika yang terjadi sampai urat nadi harus putus karena emosi yang berkecamuk untuk memenangkan diri dalam berdalih.
Allohu’alam bish showab