”Menikah bukan perkara
wah, tapi sah.”
Begitulah nasehat yang
sering saya dengan dari beberapa kawan. Memang benar, awalnya saya bercita-cita
menikah di usia 23 tahun, bersama pria tampan berwajah putih bersih dan tinggi
semapai, intinya yang di damba adalah fisik semata.
“Menikah bukan untuk
berpacaran halal, melainkan menambah amanah yang besar.”
Nasehat ini berasal dari
seorang guru spritual yang luar biasa. Karena setelah menikah bukan lagi
menyoal aku dan kamu, tapi “KITA”.
“Menikah bukan
menghindari masalah tapi menghadapi masalah.”
Kata Karena dengan
menikah bukan menyoal aku dan kamu, tapi dua keluarga yang salaing berbeda. Tanggung
jawab mengurus rumah juga mendidik anak adalah salah satu tugasnya.
Seperti yang pernah
diucapkan Fatimah R.A. “Jagalah pandangannya, jagalah perutnya, dan jagalah
barangnya sehingga kau akan menjadi istri yang sholihah”
“Menikah itu butuh ilmu
bukan hanya sekedar mau”
Amal tanpa disertai ilmu
akan tertolak, sedangkan ilmu tanpa amal akan sia-sia. Bagaimana tidak, tanpa ilmu kita akan goyah diterpa badai
meski angin tidak cukup kuat datang. Apalagi jika yang datang adalah angin
topan. So, menikah butuh ilmu guys. Contoh
sederhana adalah saat hendak menyiapkan pakaian suami pergi bekerja. Sementara kita
tidak mengetahui bagaimana kebiasaan suami dengan pakaian yang hendak
dikenakannya. Ah, artinya unssur komunikasi memang perlu dan saling menghargai.