Musim telah berganti. Arab spring kin terganti dengan
revolusi arab. Pembantaian tak lagi ada, pemikiran asinglah yang menempa. Umat menginginkan
kebangkitan namun di jegal oleh konspirasi global. Upaya banyak di lakukan,
perasaan disatukan. Tak banyak hasil, namun bisa sedikit tersadarkan.
Inilah revolusi terakhir kita.
Seperti sebaran bubuk mesiu di langit serdadu. Menyeringai di
barisan tentara yang tak punyai hati. Ini kami. Ini sembahan kami, untaian
kalam Illahi untuk kaum yang belum memahami.
Inilah revolusi terakhir kami.
Seruan mengembalikan kejayaan islam, di pangkuan perindu
hukum islam. Pekika teriakan di bawah sinar rembulan. Hingga akhirnya terlihat
nyata cahaya sang mega merah.
* * *
Kalian tahu? Kami teramat lelah menapaki jalan keimanan di
jalan kekufuran. Dengarlah! Blair, menteri Inggris itu. Dia berseru kalau akar
maslaah perang abad ke-21 ini adalah karena ekstrimisme agama. Padahal kita tak
mengusung penguasaan sumber daya demi kepentingan si kaya. Kita tidak pernah
memaksakan keyakinan untuk menciptakan pertentangan. Tak sekalipun berpikir
untuk memperluas daerah diplomasi.
Kami bosan berdecak kagum pada liberalisasi yang tidak
memiliki kenyataan yang pasti. Kami bukan orang bodoh yang terus terus di
khianati. Tak sudi lagi kelingking kami ternoda oleh tinta demokrasi. Karenaaa,
mereka ada hanya 5 tahun sekali. Setelah suara mayoritas kami tertampung, kami
layaknya sampah yang segera dibuang.
Dimanakah qadhi yang siap menghukumi kala khamr masuk ke
tubuh ini. Dimana imamah saat bayi-bayi di buang di selokan. Dimanakah mu’awin
ketika perempuan tersiksa di negeri orang?
Semua takkan terselesaikan jika sistem ini masih demokrasi
dengan kapitalismenya.
Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki,
dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang
yang yakin ? (QS. Al-Maidah:50)
Allohu ‘alam
