Jumat, 28 Februari 2014

Kekuatan itu terpancar dari tempat ini



Pagi itu, matahari belum sempat menyapa manusia dengan aktivitasnya. Sementara aku harus bangun lebih dulu dibandingkan dengan anggota keluarga ku yang lain. Ah, jikalau aku tidak menyadari betapa pentingnya hari ini. Sudah ku tarik selimut untuk menutupi seluruh badanku dan kembali berangan di bawah alam mimpi.
Tidak! Sekali kali tidak. Aku mempunyai kewajiban yang lebih penting di bandingkan tidur dan berleha-leha. Ada amanah yang harus aku lakukan karena statusku sebagai mahasiswi. Intelek meren nyaa
Sebelum berangkat, aku harus menyelesaikan pekerjaan ku di rumah terlebih dahulu. Mulai dari cuci piring, ngepel dan nanak nasi. Ah, biarkan saja kakak ku yang masak  hehe, peace!
Setelah semuanya kelar, ku baringkan selimut di lantai untuk menyetrika pakaian yang hendak aku gunakan hari itu. Tiba-tiba ada sms bernada kesal. Dimana? Acara mulai jam 8.
Astaghfirullah, aku lupa kalau acara hari ini harus ada breafing dulu. Secepat kilat menghambar pesawahan. Aku lekaskan pekerjaanku dan menuju kamar mandi.
Jam 7 aku masih berkulat dengan beres-beres kamar. Ya, Allah sepertinya aku telat. Aku raih handphone yang tergeletak di kasur. Aku pun mengsms mengonfirmasi kehadiranku yang telat. Teman-teman maaf, saya datang terlambat.
Singkat cerita, aku sudah tiba di kampus untuk menyelenggarakan acara rutin dwimingguan yang diadakan oleh organisasi yang aku ikuti. Ternyata yang baru datang adalah pemandunya.
Lemas sudah. Tidak hanya tubuh yang letih karena terburu-buru tapi hati ini juga. Seperti remuk di tindih besi berton-ton. Padahal agenda dwimingguan ini sudah di buat konsepnya selama sepekan tapi pada kenyataannya tidak ada yang dapat hadir dari peserta eksternalnnya. Bahkan lebih dari itu. Penguruspun tak banyak yang datang.
Oh, Allah. Dalam keadaan seperti ini rasanya aku ingin selangkah saja mundur dari perjuangan untuk menerapkan syariat-Mu. Tidak bergairah lagi untuk membuat uslub supaya jalan inibanyak dilalui oleh umat. Oh, Allah. Rasanya aku ingin tidur saja di kamarku dan membaca novel. Rasanya aku kuliah pulang-kuliah pulang saja dibandingkan dengan kegiatanku yang dapat ku lihat dari luar tidak banyak berarti.
Tapi kemudian, aku berpikir ulang dengan segala pikiran yang entah aku peroleh darimana. Ini adalah ujian. Kalau aku berpikir untuk berhenti sampai di sini bahkan jika harus mundur. Apa bedanya dengan ornag yang belum paham dengan islam dengan keseluruhan. Justru ini adalah sebagai tonggak bahwa kesempatan aku untuk berdakwah sangatlah luas, jika banyak yang belum paham maka banyak kesempatan untuk menyebarkan islam lebihluas lagi –berpikir sales- apa jadinyajika semua orang sudah paham? Kita tidak terlalu diperlukan tenaganya untuk menyebarkan islam tatkala umat sudah paham. Ini lading pahala. Kekuatan itu ada di tempat ini. Hati dan pikiran. Berpikir posotif terhadap Allah dan apa yang telah ditentukan oleh Allah.
Ada seorang teman yang mengingatkanku tentang hal itu. Aku hanya mendengarkan tatkala ia mengisi halqoh tapi sungguh kata-katanya yang dulu sempat ia lontarkan ketika kajian itu terngiang sekarang di telinga. “Semakin kita menjauh dari masalah, maka semaki cepat pula masalah itu mengejar kita”
“. . .Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”. (Q.S Al-Baqoroh: 216)
Ayo ayo fastabiqul khoirot. J

Rabu, 26 Februari 2014

Gerakan adalah Kehidupan


Sebetulnya sudah dari lama saya ingin berbagi cerita mengenai hal ini. Judul tersebut-maaf menjiplak- saya ambil dari perkataan brett pith (maaf gimana ya nulis namanya) dalam sebuah film yang berjudul “zombie” atau bahasa kerennya –dalam buku bapa Jamil Azzaini- move on.
Gerakan adalah kehidupan. Guys, tahukah jikalau kita dalam seminggu saja berdiam diri di rumah tanpa melakukan apapun. Dapat dipastikan bahwa semua penyakit dapat bersarang dalam tubuh kita. Kenapa? Karena pada dasarnya tubuh yang memiliki aktivitas harian yang tanpa dikendalikan kita akan terus berlangsung. Seperti jantung yang tetap berdetak meskipun kita tidur, ginjal yang terus memproduksi insulin sebagai pencegah gula dalam darah dalam jumlah banyak. Jadi ketika tubuh ini tidak digunakan maka yang terjadi adalah rapuhnya tubuh mu untuk melakukan aktivitas yang ringan sekalipun. Contoh yang bisa di analogikan sama pisau deh, kalau di simpan di tempat sendok saja, maka tunggulah karatan. J
Tahukah, orang yang terkena osteoporosis itu epidemologinya adalah orang yang inactive aktivitas? Ya, itu lah kenyataan.
Kalau di buku ON Bapa Jamil Azzaini mah move on artinya bergerak, berpindah, dari situasi ke situasi yang lain. Perpindahan ke arah yang lebih baik. Saya akan gunakan analogi ini ke dalam masalah ibadah.
Ya, kalau kita merasa bahwa kita sudah istiqomah dengan ibadah kita selama ini apakah akan menghantarkan kita pada sebuah ibadah yang sempurna? Tentu tidak. Maka dari itu diperlukan MOVE ON. Karena kehidupan kita akan berubah. Sepuluh tahun yang lalu tatkala kita berusia 10 tahun, sholat kita hanya melakukan yang wajib. Tapi akankah kita terus seperti itu tanpa meningkatkannya? Padahal ilmu kita bertambah bahwa selain sholat wajib ada sholat sunnah yang bisa kita lakukan untuk menambah bekal kita nanti? Dunia ini berputar dan terus berubah. Jika kita terus dalam keadaan seperti ini maka kita akan tertinggal.
Barang siapa yang harinya sama saja maka dia telah lalai, barang siapa yang hari ini lebih buruk dari kemarin maka dia terlaknat, barang siapa yang tidak mendapatkan tambahan maka dia dalam kerugian, barangsiapa yang dalam kerugian maka kematian lebih baik baginya. (At Tadzkirah fil Ahadits Musytahirah, Hal. 138, Al Firdaus bi Ma’tsur Al Khithab No. 5910)
Seperti dakwah. Ada teman saya yang menempel kata-kata di depan pintu kamarnya “bergerak atau tergantikan” nyentak banget rasanya. Ya, mangga jika kita mau stak saja disini silakan. Namun, meskipun kita mau mundur pasti ada orang-orang yang lebih baik, yang dapat menggantikan kita. Ayo bergerak. Bergerak. Tu wa tu wa