Pagi itu, matahari belum sempat menyapa manusia dengan
aktivitasnya. Sementara aku harus bangun lebih dulu dibandingkan dengan anggota
keluarga ku yang lain. Ah, jikalau aku tidak menyadari betapa pentingnya hari ini.
Sudah ku tarik selimut untuk menutupi seluruh badanku dan kembali berangan di
bawah alam mimpi.
Tidak! Sekali kali tidak. Aku mempunyai kewajiban yang lebih
penting di bandingkan tidur dan berleha-leha. Ada amanah yang harus aku lakukan
karena statusku sebagai mahasiswi. Intelek meren nyaa
Sebelum berangkat, aku harus menyelesaikan pekerjaan ku di
rumah terlebih dahulu. Mulai dari cuci piring, ngepel dan nanak nasi. Ah,
biarkan saja kakak ku yang masak hehe,
peace!
Setelah semuanya kelar, ku baringkan selimut di lantai untuk
menyetrika pakaian yang hendak aku gunakan hari itu. Tiba-tiba ada sms bernada
kesal. Dimana? Acara mulai jam 8.
Astaghfirullah, aku lupa kalau acara hari ini harus ada
breafing dulu. Secepat kilat menghambar pesawahan. Aku lekaskan pekerjaanku dan
menuju kamar mandi.
Jam 7 aku masih berkulat dengan beres-beres kamar. Ya, Allah
sepertinya aku telat. Aku raih handphone yang tergeletak di kasur. Aku pun
mengsms mengonfirmasi kehadiranku yang telat. Teman-teman maaf, saya datang
terlambat.
Singkat cerita, aku sudah tiba di kampus untuk
menyelenggarakan acara rutin dwimingguan yang diadakan oleh organisasi yang aku
ikuti. Ternyata yang baru datang adalah pemandunya.
Lemas sudah. Tidak hanya tubuh yang letih karena
terburu-buru tapi hati ini juga. Seperti remuk di tindih besi berton-ton.
Padahal agenda dwimingguan ini sudah di buat konsepnya selama sepekan tapi pada
kenyataannya tidak ada yang dapat hadir dari peserta eksternalnnya. Bahkan
lebih dari itu. Penguruspun tak banyak yang datang.
Oh, Allah. Dalam keadaan seperti ini rasanya aku ingin
selangkah saja mundur dari perjuangan untuk menerapkan syariat-Mu. Tidak
bergairah lagi untuk membuat uslub supaya jalan inibanyak dilalui oleh umat. Oh,
Allah. Rasanya aku ingin tidur saja di kamarku dan membaca novel. Rasanya aku
kuliah pulang-kuliah pulang saja dibandingkan dengan kegiatanku yang dapat ku
lihat dari luar tidak banyak berarti.
Tapi kemudian, aku berpikir ulang dengan segala pikiran yang
entah aku peroleh darimana. Ini adalah ujian. Kalau aku berpikir untuk berhenti
sampai di sini bahkan jika harus mundur. Apa bedanya dengan ornag yang belum
paham dengan islam dengan keseluruhan. Justru ini adalah sebagai tonggak bahwa
kesempatan aku untuk berdakwah sangatlah luas, jika banyak yang belum paham
maka banyak kesempatan untuk menyebarkan islam lebihluas lagi –berpikir sales-
apa jadinyajika semua orang sudah paham? Kita tidak terlalu diperlukan
tenaganya untuk menyebarkan islam tatkala umat sudah paham. Ini lading pahala.
Kekuatan itu ada di tempat ini. Hati dan pikiran. Berpikir posotif terhadap
Allah dan apa yang telah ditentukan oleh Allah.
Ada seorang teman yang mengingatkanku tentang hal itu. Aku hanya
mendengarkan tatkala ia mengisi halqoh tapi sungguh kata-katanya yang dulu
sempat ia lontarkan ketika kajian itu terngiang sekarang di telinga. “Semakin kita
menjauh dari masalah, maka semaki cepat pula masalah itu mengejar kita”
“. . .Boleh jadi kamu membenci sesuatu,
padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu,
padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”. (Q.S Al-Baqoroh: 216)
Ayo ayo fastabiqul khoirot. J

