Sabtu, 30 November 2013

Seberapa Pantaskah Kita?

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat (Q.S al-baqarah:214)
Alhamdulillah wa syukurillah., tiada nikmat yang terjamah oleh kita manusia kecuali datangnya dari Allah. Nafas yang masih berhembus dari rongga hidung, kesakitan fisik yang tidak terasa, detak jantung yang kian hari makin sehat, nikmat itu hanya dari Allah. Segudang aktivitas aku garap hari itu, mulai dari halqoh, praktikum mata kuliah, materi kuliah, lantas pengamatan praktikum yang tidak kunjung selesai dalam waktu sehari. Kadang aku berpikir, semakin dewasa ko semakin banyak amanah yang ditujukan kepada ku. Apalagi jika melihat teman disampingku. Rasa letih hari itu nampak sekali di pelipisnya. Gurat kekesalannya masih terlihat dalam diamnya. Rumahnya jauh dari kampus. Jam 8 malam masih diangkot warna hijau yang akan mengantarkannya untuk setengah perjalanan. Namun, ayat di atas lah yang membuat aku tak lantas mengeluh. Hey, emang seberapa besar cobaan apa yang telah kita dapat sehingga kita mengeluh?
Sebuah refleksi. . .
“Sok, tau kamu. Kamu ga ngerti apa yang sedang aku alami!” kalau ada yang bilang begitu maka akan aku jawab “Masalah setiap orang berbeda-beda. Sesuai kadarnya.” Hehehe
Ya, setiap orang memiliki masalah yang berbeda-beda. Contohnya saja aku. Meskipun sedang menjalani kuliah tapi aku termasuk orang rumahan yang tinggal bersama dengan pasutri (kakak laki-laki ku dengan istrinya), tidak nge-kos. Ada bebrapa kewajiban yang harus aku tunaikan ketika tinggal di dalam sebuah keluarga yang bukan orang tua asli. Sementara gelar hamlud dakwah (insyaallah) takkan bisa aku lepaskan begitu saja ketika melihat permasalahan umat yang semakin kompleks. Belum amanah kuliah yang ditangguhkan kepadaku dari keluarga. Kalau mencermati jadwal yang sudah tersusun rapi nempel di dinding kamar rasanya aku ingin berteriak sekencang-kencangnya. “Kaappaaaan aaakuuu bisaaaaa istirahaaat?” belum lagi memikirkan apa yang dipikirkan orang. Itu sangat menyiksa. “Naon atuh ah, ka cape-cape mikirkeun batur”. Tapi mau tak mau hal itu telah mendarah daging dalam pikiranku tatkala aku takut aktivitas yang aku lakukan malah memberatkan orang lain atau bahkan merugikan orang lain serta salah di hadapan mereka. But, kata teman ku mah “All is well”
Ya, dengan kecukupan yang masih bisa kita terima justru kita tak seharusnya melalaikan waktu yang Allah berikan. Belum tentu kita bisa bertemu dengan hari esok. Hari yang di penuhi keceriaan dan pengorbanan dengan sesuatu yang kita inginkan.
Contoh lain untuk orang-orang kos nihh. . .
Seperti apa yang dikemukakan sahabat ku tercinta. Ia tidak bisa makan pagi karena pulsa listrik di kosannya keburu habis. Masyaallah betul. Kita tak tahu hari esok bagaimana kita hidup karena Allah lah yang mengaturnya. Laptop di pinjam kamar sebelah. Printan rusak. Atau apalah itu. Itu termasuk cobaan yang telah Allah kasih untuk mengetahui seberapa sabarkah kita dan tidak mengeluh.
Untuk orang-orang yang merasa dirinya sebagai aktivis.
Jangan mengeluh kawan. Karena hidup adalah pilihan. Dan pilihanmu adalah sebagai aktivis. Dalam hal ini aktivis apapun. Baik itu yang umum atau aktivis keagamaan. Ada segelintir orang yang mementingkan organisasi ketimbang kuliah. Ya, perbuatan seseorang tergantung pada pemahamannya. Ketika kita diamanahi dalam suatu bidang tertentu kita tidak akan melepaskan perkara ini sampai tuntas diselesaikan untuk mensukseskan organisasi tersebut. Nah, disini butuh kerja cerdas (kata-kata nyontek dari buku). Misalnya pada jam kuliah bada dzuhur kita harus mengadakan rapat koordinasi maka cari waktu kuliah di kelas  lain yang sama dengan mata kuliah yang kita ambil supaya absen pun tetap masuk di minggu itu. Atau organisasi yang sedang aku tekuni hehehe. Sama halnya. Pagi jam 7 aku harus melaksanakan kewajiban Halaqoh tapi disisi lain harus kuliah juga maka masuklah ke jam kelas lain. Ah, sederhana bukan.KULIAH JALAN ORGANISASI YES!
Nah, terakhir. Untuk mahasiswa-mahasiswi Studi oriented. Yang ogah sama organisasi, maunya kupu-kupu (kuliah pulang, kuliah pulang). Emangnya dengan rutinitas seperti itu tidak ada kendalanya. Engga lah. Pasti ada. Tpi tersenyumlah kawan-kawan karena semua yang kita lakukan tidak ada yang sia-sia di mata Allah. Sungguh.
Maka, muqodimah dari ayat tersebut. . . “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu?. Jangan berharap kamu akan masuk syurga jika belum ada cobaan dating kepadamu sebagaimana halnya orang-orang terdahulu (para Nabi).
Ingatlah pertolongan Allah itu amat dekat. Apalagi jika kita mendedikasikan hidup kita unutk menolong agama Allah insyaallah segala urusan akan dipermudah.
Penutup. . . .
Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam jannah 'Adn. Itulah keberuntungan yang besar. Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman. (QS. Ash-shaff(61): 10-13)
Lalu seberapa pantaskah kita untuk mencium syurga yang luasnya seluas langit dan bumi? Kalian lah yang bisa menjawabnya.
Allohua’lam bis showab

Jumat, 08 November 2013

Rindu ku Padamu




Lihatlah tatapan mentari di ufuk timur
Tertawa sendu memandangi hati
Bertaburkan pendaran bintang fajar
Laksana sorotan mata bidadari yang mengintip bumi
Menatap penuh kagum para hamba Allag
Yang tersungkur sujud menundukan jiwa
Kepada Rabbnya
Sahabat, seandainya engkau disini
Kan ku ajak engkau menari bersama pagi
Kan ku ajak engkau berlari menyalip sinar mentari
Namun engkau tak lagi ada di sampingku
Disini aku menantimu, wahai sahabat
(Fenfen Fenda Florena- ideal.is.me)
*                      *                              *
Syair di atas bukan syair yang aku buat sendiri., ah, lisan. Untuk berkata rindu saja sulit diungkapkan. Mengapa rindu itu muncul? Aku pun tak tahu mengapa tiba-tiba membuncah dalam selipan rutinitas belajar yang tiada henti.
Tahukah rindu ini mulai menyelusup?
Siang kemarin waktu aku pulang kuliah sedikit aku mendengar pembicaraan 2 orang remaja pria di angkot. Tertarik mendengarnya, aku pun merangkai informasi itu dalam benak. Satu diantaranya bercerita dengan semangat. Tokoh yang disebutnya lah yang menarik perhatianku. ‘Jiraya’ siapakah ia? Aku pun hanya mengerutkan kening. Apakah tokoh tersebut adalah tokoh jepang yang sedang tenar akan penemuan baru dalam IPTEK? Ah, perasaan. Aku sempat malu. Meskipun belajar sains sebagai tonggak kuliah, tapi aku sama sekali tidak mengenalnya.
Dengan serunya bercerita, aku pun merekam dan menyatukan satu demi satu kalimatnya. Lalu dari mulut pria berusia 16-an tahun itu keluar nama dewa kodok? Lho ko., hem., langsung ilfill. Ternyata cerita itu berkisah tentang tokoh kartun di episode tertentu. Iya, tentu tahu dengan tokoh utama yang berteman dengan sasuke atau sakura bukan?
Melirik dari persoalan tadi. Aku bisa merangkai kejadian yang sering dilakukan remaja. Masih ingatkah bulan oktober lalu teriar berita mengenai anak SMP yang bertindak asusila dan itu di rekam? Belum hilang di benak pula di pertengahan tahun 2013 seorang anak SMP di Surabaya menjadi mucikari teman-temanya. Sebuah kontradiksi bukan?
Sungguh aku rindu. Amat rindu seorang gadis kepada sahabatnya yang pergi jauh tanpa berita tanpa perkembangan. Aku rindu ada seseorang yang perawakannya seperti Mus’ab bin Umair yang sedikit ilmunya namun bisa menaklukan Madinah dengan bukti membawa suku Aus dan Khazraj masuk Islam. Aku pun rindu pada sosok pedangnya Allah, Khalid bin Walid karena dengan kecerdikannya mampu mengalahkan kafir Quraisy di perang Mu’tah. Ah, sunggu rindu.

Tapi apakah masih bisa aku temukan remaja pejuang Islam satu kali lagi saja jika pada faktanya aku menemukan hal yang seperti tadi.
Bisa! Tentu bisa. Tapi dengan cara apa? Allah secara langsung menjawabnya (TQS. Al-a’raf: 163-165)
163. Dan tanyakanlah kepada Bani Israil tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu, di waktu datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada disekitar) mereka terapung-apung di permukaan air, dan di hari-hari bukan Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah Kami mencoba mereka disebabkan mereka berlaku fasik.
164. Dan (ingatlah) ketika suatu umat diantara mereka berkata: “Mengapa kamu menasehati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab dengan azab yang amat keras?” Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Rabbmu, dan supaya mereka bertaqwa”.
165. Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik.
Dakwah adalah satu-satunya jalan untuk merubah pemikiran mereka dari yang rendah ke yang tinggi. Bahwa islam adalah tolak ukur perbuatan bukan karena asas manfaat atau kesenangan semata.
Allohua’lam bish showab