Minggu, 07 Oktober 2012

cerpen


CERPEN
Karena dia, kakakku!
Apa yang Nampak berbinar itu?
Itu mata miliknya. Bukan karena ia bersahaja atau rajin beribadah. Bukan karena keteduhan hatinya yang selalu menyiratkan senyuman atau kelakuannya yang pendiam. Bukan karena kebijakan sering dilontarkannya pada setiap orang atau kata-katanya yang lembut pada setiap gadis yang ditemuinya. Bukan Karena candaan yang membuat orang senang mendengarnya atau trik-trik yang menggema sehingga orang tertarik dan ingin tetap disisinya. Bukan! Bukan karena itu.
Karena dia, kakakku!
*                                  *                                  *
Pandangannya kosong laksana bumi tak disinari matahari. Hanya ada satu sudut dimana setitik cahaya itu berbinar.
Elin menatap beku sosok dihadapannya. Kadang dia tersenyum. Kadang dia mengubah ekspresi wajahnya menjadi kelam. Tersenyum, muram, tersenyum, muram. Terus begitu!
Sosok itu terlalu indah bila ia abaikan. Sosok itu mengagumkan. Ssstt… Tundukan pandanganmu. Elin mengalihkan pandangannya ke arah tumpukan materi-materi mata kuliah hari itu di atas meja.
“ Hufh, perasaan itu lagi!” Elin menyemburkan nafasnya ke hidung.
Pikiran Elin menyelami dasar hati. Apa yang terjadi sebenarnya dengan perasaannya? Apakah virus merah jambu itu hinggap lagi untuk kesekian kalinya? Ataukah hanya perasaan mengagumi pada sosok itu karena mengingatkan pada idolanya. Nabi Muhammad Saw, sosok pemimpin?
Ehm, entahlah!
Kini ia sedang mencari kebenaran itu.
Denting jam menyambut riak air di genting. Wah, tak terasa sudah memasuki musim penghujan. Sementara sosok yang sedari tadi membahas jadwal kuiah tak ubahnya dengan penyiar berita di radio. Tak dihiraukan!.
“ Pak, pak bagaimana kalau MK fisika itu dipindahkan ke hari jum’at? Soalnya sabtu saya ingin mudik” Celetuk pria innocent. Kelas ricuh dengan sorakan.
“ Yah, tadi kan sudah dibahaskalau sabtu itu tidak libur. Jadinya hari senin karena MK hari senin itu hanya satu!”
“ Bapak ini giman asih, ga bisa apa kalau kuliahnya empat hari dalam seminggu. Yang penting full day” Sergah pria itu.
“ Cung, siapa yang sudah sepakat dengan jadwal yang sudah dibahas tadi?” Si bapak memerintahkan. 70% angkat tangan sementara yang lain celingukan, bergurau dengan teman sebangkunya atau ada yang masih bingung.
“ Berarti sepakat ya kalau jadwalnya adalah ini!” Dia mengetok-ngetok papan tulis. “Pembahasan jadwal mata kuliah dicukupkan sekian. Untuk konfirmasi berikutnya saya jarkom. Wassalamu’alaikum!” Dia menutup forum itu.
Pria itu tampak kecewa. Ada gurat dipelipisnya.
“ Sehabis ini mau kemana say?” Tanya Eva, teman sebelah Elin. Gadis berkerudung merah itu menggeleng.
“ Ikut Eva ke RTC mau ga?”
“ RTC?” Elin mengerutkan pelipis tanda ia belum ngeuh.
“ Itu loh Rancaekek Trade Center. Kawasan perbelanjaan terbaru” Eva tersenyum mondar-mandir.
“ R-T-C” Elin mengeja. “ Rancaekek Trade Center”
“ Iya,, RTC. Mau ga say? Kenapa sih kamu tuh?”
“ Eh, iya, iya RTC..” Elin baru fokus. Didaerah dangdeur kan?”
“ Yups!”
“ Jauh banget. Kenapa jalan-jalnnya ga di daerah Bandung raya aja? Bareng siapa aja?”
“ Yah, kalau daerah sini mah udah bosen!”
“ Gayanya… Aku saja orang Bandung asli belum tahu Bandung itu kaya apa”
“ Huh, begitulah. Eva kan suka berpetualang. I like it!”
“ Bareng siapa aja?”
“ Kita berdua aja!” Jawab Eva sambil mengedip-ngedipkan mata.
“ Hhehe!” Seru Elin. “ Maaf, aku ga bisa. Alasan pertama ga punya duit. Alasan kedua, aku punya jagaan di rumah! Maaf yaa…”
“ Ou, jagaan? Maksudnya?”
“ Aku musti jagain nenekku. Beliau kan sudah tua jadi untuk pipis harus diantar, makan harus disediakan. Hah, begitulah! Kalau aku kuliah, yang jaga bibi” Jelas Elin.
“ Aiih, hebat benul kamu Lin!”
“ Hhehe!” Tanggap Elin.
“ Nyok, bareng ke depannya aja deh!” Ajak Eva. Elin menguntit dari belakang. Sejenak ia menatap sang kosma itu dengan penuh kagum, lalu menunduk sembari berjalan pelan.
*                                  *                                  *
Pukul  02.00
Alarm yang sudah di set tadi malam oleh Elin terus bordering. Ia bermaksud untuk menunaikan sholat tahajud yang sering ia tinggalkan. Tapi, hufh.. Rasa kantuk yang mengganggu itu lebih ia dahulukan ketimbang bayangan syurga yang telah dijanjikan. Dia, kembali pulas. Namun, tak lama bel rumah berbunyi beberapa kali, tanda pintu ruah ingin segera dibuka. Elin memaksakan bangkit, kalau tidak ia pasti diomeli oleh bibi terurama pamannya yang suka berkomentar pedas tentang pekerjaan yang sering tidak becus.
“ Hoamm!” Langkah Elin sedikit gontai.
Elin memutar kunci dan membuka pintu depan perlahan. Di teras sana telah terparkir motor revo milik kakaknya.
“ A, habis dimana?” Elin menyapanya dengan sebuah pertanyaan. Bukan bertanya ‘mengapa pulang jam segini’ kerena memang hampir setiap malam ia sering membukakan pintu untuk kakaknya itu.
“ Lembur nih, biar kerjaannya cepat selesai”. Kakanya membuka helm. Nampak disana gurat kelelahan berlebih.
“ Masuk aja A, biar Elin yang masukin motornya!” Elin segera ambil alih kunci motornya. Kakaknya menuruti.
Elin merasakan betapa perihnya kehidupan yang dijalani. Kakaknya berjuang keras mencari uang demmi biaya kuliah plus makan untuk dirinya karena numpang di rumah bibinya. Belum dengan segala jenis obat yang musti dibeli untuk neneknya. Ditambah dengan tabungan untuk pernikahan yang akan berlangsung 5 minggu lagi. Dan… lagi-lagi perhatian kakaknya tercurah pada pekerjaan juga calon istrinya.
“ Oia, nih jatah uang jajanmu untuk satu minggu! Takutnya kalau nanti pagi aa belum bangun” kakaknya mengasongkan selembar uang lima puluh ribuan, lantas hilang di balik pintu kamar.
‘ Makasih a!” Elin tersenyum mengembang, lalu bersegera memasukan motor kedalam rumah dan pergi ke kamar mandi untuk melaksanakan sholat. Ada untungnya juga kakaknya pulang pagi, hhikhik.
Setelah mengerjakan ini dan itu sebagai tugas di rumah, Elin pun siap untuk pergi kuliah. Tak biasanya ia memoles pipi tembemnya denga bedak, sedikit pakai handbody, dan merias kerudungnya dengan model baru. Hari ini mungkin hormone progesteronya berada didataran tinggi.
“ Siap beraksi didepan Kai!” Elin tersenyum. “ Eh, ko, Kaisar? Haduwh haduwh. Ko aku ingat dia sih” Elin membanting kepalanya engan jari telunjuk yang ditekuk.
Kaki yang dibawa Elin menuju ruang kelas, tanpa diperintah tiba-tiba mengalun dengan pelan, karena dia berjalan ke hulu lumayan jauh. Elin pun menuruti keinginan kaki walaupun ia tahu 10 menit lagi jam mata kuliah akan segera dimulai.
“ Hei! E..lin ya!” seseorang menyapa Elin sembari menyenggol badannya. Elin melirik.
‘ Ya, Tuhan. Mimpi apa aku semalam. Sehingga aku bisa dekat dengan dia, bahkan dia menyapaku’ Elin hanya bisa tersenyum.
“ Sendirian aja, ga bareng sama yang lain?” Elin lagi-lagi tersenyum. Langkah Elin dan Kaisar berbarengan.
/” Ko ga jawab, aneh!” Kaisar berceloteh. Sesekali ia merogoh tas infocus yang berada dibahu kirinya. Elin teta[ tidak menggubris.
‘ Deg-degan sungguh’ Meskipun batinnya terguncang oleh rasa bahagia, tapi ia masih inagt koridor yang ditetepkan islam dalam masalah pergaulan kaum Adam dan kaum Hawa. Elin memperlambat langkahnya supaya Kiasar berada didepannya.
“ Begitulah!” Elin menyemburkan nafasnya ke hidung seperti yang sering ia lakukan.
“ Oh!’ singkat Kaisar.
“ Kaisar!” sayup-sayup terdengar suara yang memanggil Kaisar persis di belakang Elin. Elin tak acuh mendengarnya. Ia pikir sura itu berasal dari suara batinnya.
“ Kaisar!” na, suara itu terdengar lagi. Ini berarti suara itu bukan dari dirimya tapi memang ada orang yang memanggil KAISAR.
“ Kaisar tunggu!” perintah orang tersebut. Sebelum Elin berbalik, orang itu sudah disamping Kaisar.
“ Hei” suara Kaisar begitu lembut. Beda dengan ucapannya ketika menyapa Elin tadi. Terjadilah percakapan antara keduanya. Elin meringis, baru saj ia merasa di langit ke tujuh tapi sedetik kemudian terkubur dalam tanah.
‘ Kaisar dekat dengan Annisa ternyata’ pikir Elin. Hufh,, langkahnya semakin diperlambat. Dia menatap semu punggung Kaisar.
Dua jam berlangsung di mata kuliah biologi Umum kelar di geluti oleh puluhan mahasiswa semester 1. Seperti biasa empat jam mereka harus menunggu untuk menikmati sajian mata kuliah lain.
“ Teman-teman jangan bubar dulu sebentar” kata Kaisarseusai dosen Biologi Umum keluar kelas.. “ Ini ada pengumuman dari HIMA. Bagi kalian yang ingin mengikuti litbangyang diadakan HIMA. Silakan daftar ke Kai!” anak-anak berebut untuk mendaftar di sekretaris. “ Oia, litbang dibagi menjadi tiga. Kalian pilih salah satunya. Ada zoo, vito, dan mikro. Sok silakan yang mau!” suruh Kaisar sembari membereskan terminal infocus yang bercecer.
“ Lin, kau mau ikut yang mana?” tanya Eva.
“ Tau nih” Elin tersenyum dengan terpaksa. Dia tidak beranjak dari kursinya.
“ kalau aku mau vito, aku kesana dulu ya!”
“ Siph, siph, siph!”
Hanya butuh dua ajm saja untuk mengena Kaisar bagaimana. Dua jam ini Elin terus memperhatikan Kaisar dan gelagatnya. Sekarang ia tahu hal apa yang menyebabkan Kaisar dekat dengan Annisa. Itu karena Annisa sering mengajari Kaisar mata kuliah yang ketinggalan, maklum kosma. Waktunya terbagi-bagi untuk kelas, untuk akademik ataupun non akademik. Dan, anak-anak sedah mengetahui kedekatam mereka.
“ kamu ga daftar Lin?” tnya Eva yang sudah mendaftar.
“ Engga kayaknya!”
“ Beneran?” ungkap Eva tak percaya.
“ Iya, aku lebih minat ke nulis daripada penelitian.”
“ Oh! Yok, capcus keluar kelas, gerah nih!”
“ duluan aja deh. Soalnya aku mau ke kamar mandi dulu!” Elin beralasan.
“ Okeh deh. Di tunggu di hotspot biasa ya!”
“ Siph!” Elin berlari kecil menuju kamar mandi.
Baru saja ia keluar kamar mandi. Ia berpapasan dengan Kaisar.
‘ Walah kenapa harus ketemu disini sih’
“ Hei!” Kaisar menyapa. Elin tersenyum masam. “ Tiap kali ketemu kamu sendiri aja. Ga bareng anak-anak?”
‘ La wong ntar terkubur dalam tanahpun sendiri’ Elin menggerutu dalam hati.
“ Duluan ya!” Kaisar pergi dari hadapannya, tanpa mengharap jawaban dari Elin.
‘ aku heran. Di dalam kelas aja, boro-boro nyapa ngelirik aku aja ga pernah. Ini, kalau ga ad anak-anak nyapa. Malah nanya, seperti perhatian begitu. Kaisar aneh!. Hanya saja rasa deg-degan itu lama-kelamaan berubah menjadi rasa nyaman. Seperti dekat dengan orang yang sudah lama kenal. Aa? Ada apa dengan Elin. Adanya rasa kehangatan itu sama ketika Elin bisa lihat aa, dapat perhatian aa. Perhatian itu seperti sayangnya kaka kepada adiknya. Tak sering tapi sekalinya mengungkapkan khawatirnya laksana kehilangan kegundahan sesaat’.
Sejurus kemudian, Elin menuju hotspot yang diincar teman-temannya. Kurang lebih 10 menit sudah sampai di lantai 1. Tapi, tak ada anak-anak disana. Kemana mereka? Elin memutuskan untuk berkeliling sembari sms Eva.
‘ Walah hapeku! Apa ketinggalan?’ ia meraba tas punggungnya. Haa, Elin berkeliling selama setengah jam di lantai 1 dan 2.  Tak ada anak-anak disana. ‘ Kemana mereka?’
“ Hei!” Elin kaget. “ Ketemu lagi, lagi ngapain? Kaga masuk kelas?” Elin mengernyitkan dahi. “ Kamu ga dapat jarkom?” Elin menggeleng. “ Hari ini dosen kimia masuk lebih awal, udah di lantai lima tuh!” Kaisar melangkah menuju tangga sembari menenteng infocus.
“ Hapeku tertinggal” ucap Elin pelan.
“ Oh! Ayo!”
“ Iya a!” Elin memanggil dengan sebutan kakak. Tanpa pikir panjang Elin menguntit  di belakang Kaisar. Kaisar melirik. Elin memberi senyum.
*                                  *                                  *
Ini akhir romantisme yang ada dalam lubuk hati ini. Tak semua yang kita rasakan berupa deg-degan adalah cinta karena hawa nafsu melihat kepiawaiannya. Yang kudapati sekarang lebih baik daripada memilih jatuh cinta pada dia. Tidak seperti rasa kasih yang tertanam pada dua insan di mabuk cinta yang mudah roboh. Kini aku merasakn punya dua kasih saying dari dua orang kakak. Di rumah ada A Bian, di kampus ada Kaisar. Dan, mungkin lebih baik begitu.