CERPEN
Karena
dia, kakakku!
Apa yang Nampak berbinar itu?
Itu mata miliknya. Bukan karena ia
bersahaja atau rajin beribadah. Bukan karena keteduhan hatinya yang selalu
menyiratkan senyuman atau kelakuannya yang pendiam. Bukan karena kebijakan
sering dilontarkannya pada setiap orang atau kata-katanya yang lembut pada
setiap gadis yang ditemuinya. Bukan Karena candaan yang membuat orang senang
mendengarnya atau trik-trik yang menggema sehingga orang tertarik dan ingin
tetap disisinya. Bukan! Bukan karena itu.
Karena dia, kakakku!
* * *
Pandangannya kosong laksana bumi tak disinari matahari. Hanya ada
satu sudut dimana setitik cahaya itu berbinar.
Elin menatap beku sosok dihadapannya. Kadang dia tersenyum. Kadang
dia mengubah ekspresi wajahnya menjadi kelam. Tersenyum, muram, tersenyum,
muram. Terus begitu!
Sosok itu terlalu indah bila ia abaikan. Sosok itu mengagumkan.
Ssstt… Tundukan pandanganmu. Elin mengalihkan pandangannya ke arah tumpukan
materi-materi mata kuliah hari itu di atas meja.
“ Hufh, perasaan itu lagi!” Elin menyemburkan nafasnya ke hidung.
Pikiran Elin menyelami dasar hati. Apa yang terjadi sebenarnya
dengan perasaannya? Apakah virus merah jambu itu hinggap lagi untuk kesekian
kalinya? Ataukah hanya perasaan mengagumi pada sosok itu karena mengingatkan
pada idolanya. Nabi Muhammad Saw, sosok pemimpin?
Ehm, entahlah!
Kini ia sedang mencari kebenaran itu.
Denting jam menyambut riak air di genting. Wah, tak terasa sudah
memasuki musim penghujan. Sementara sosok yang sedari tadi membahas jadwal
kuiah tak ubahnya dengan penyiar berita di radio. Tak dihiraukan!.
“ Pak, pak bagaimana kalau MK fisika itu dipindahkan ke hari
jum’at? Soalnya sabtu saya ingin mudik” Celetuk pria innocent. Kelas ricuh
dengan sorakan.
“ Yah, tadi kan sudah dibahaskalau sabtu itu tidak libur. Jadinya
hari senin karena MK hari senin itu hanya satu!”
“ Bapak ini giman asih, ga bisa apa kalau kuliahnya empat hari
dalam seminggu. Yang penting full day” Sergah pria itu.
“ Cung, siapa yang sudah sepakat dengan jadwal yang sudah dibahas
tadi?” Si bapak memerintahkan. 70% angkat tangan sementara yang lain
celingukan, bergurau dengan teman sebangkunya atau ada yang masih bingung.
“ Berarti sepakat ya kalau jadwalnya adalah ini!” Dia
mengetok-ngetok papan tulis. “Pembahasan jadwal mata kuliah dicukupkan sekian.
Untuk konfirmasi berikutnya saya jarkom. Wassalamu’alaikum!” Dia menutup forum
itu.
Pria itu tampak kecewa. Ada gurat dipelipisnya.
“ Sehabis ini mau kemana say?” Tanya Eva, teman sebelah Elin. Gadis
berkerudung merah itu menggeleng.
“ Ikut Eva ke RTC mau ga?”
“ RTC?” Elin mengerutkan pelipis tanda ia belum ngeuh.
“ Itu loh Rancaekek Trade Center. Kawasan perbelanjaan terbaru” Eva
tersenyum mondar-mandir.
“ R-T-C” Elin mengeja. “ Rancaekek Trade Center”
“ Iya,, RTC. Mau ga say? Kenapa sih kamu tuh?”
“ Eh, iya, iya RTC..” Elin baru fokus. Didaerah dangdeur kan?”
“ Yups!”
“ Jauh banget. Kenapa jalan-jalnnya ga di daerah Bandung raya aja?
Bareng siapa aja?”
“ Yah, kalau daerah sini mah udah bosen!”
“ Gayanya… Aku saja orang Bandung asli belum tahu Bandung itu kaya
apa”
“ Huh, begitulah. Eva kan suka berpetualang. I like it!”
“ Bareng siapa aja?”
“ Kita berdua aja!” Jawab Eva sambil mengedip-ngedipkan mata.
“ Hhehe!” Seru Elin. “ Maaf, aku ga bisa. Alasan pertama ga punya
duit. Alasan kedua, aku punya jagaan di rumah! Maaf yaa…”
“ Ou, jagaan? Maksudnya?”
“ Aku musti jagain nenekku. Beliau kan sudah tua jadi untuk pipis
harus diantar, makan harus disediakan. Hah, begitulah! Kalau aku kuliah, yang
jaga bibi” Jelas Elin.
“ Aiih, hebat benul kamu Lin!”
“ Hhehe!” Tanggap Elin.
“ Nyok, bareng ke depannya aja deh!” Ajak Eva. Elin menguntit dari
belakang. Sejenak ia menatap sang kosma itu dengan penuh kagum, lalu menunduk
sembari berjalan pelan.
* * *
Pukul 02.00
Alarm yang sudah di set tadi malam oleh Elin terus bordering. Ia
bermaksud untuk menunaikan sholat tahajud yang sering ia tinggalkan. Tapi,
hufh.. Rasa kantuk yang mengganggu itu lebih ia dahulukan ketimbang bayangan
syurga yang telah dijanjikan. Dia, kembali pulas. Namun, tak lama bel rumah
berbunyi beberapa kali, tanda pintu ruah ingin segera dibuka. Elin memaksakan
bangkit, kalau tidak ia pasti diomeli oleh bibi terurama pamannya yang suka
berkomentar pedas tentang pekerjaan yang sering tidak becus.
“ Hoamm!” Langkah Elin sedikit gontai.
Elin memutar kunci dan membuka pintu depan perlahan. Di teras sana
telah terparkir motor revo milik kakaknya.
“ A, habis dimana?” Elin menyapanya dengan sebuah pertanyaan. Bukan
bertanya ‘mengapa pulang jam segini’ kerena memang hampir setiap malam ia
sering membukakan pintu untuk kakaknya itu.
“ Lembur nih, biar kerjaannya cepat selesai”. Kakanya membuka helm.
Nampak disana gurat kelelahan berlebih.
“ Masuk aja A, biar Elin yang masukin motornya!” Elin segera ambil
alih kunci motornya. Kakaknya menuruti.
Elin merasakan betapa perihnya kehidupan yang dijalani. Kakaknya
berjuang keras mencari uang demmi biaya kuliah plus makan untuk dirinya karena
numpang di rumah bibinya. Belum dengan segala jenis obat yang musti dibeli
untuk neneknya. Ditambah dengan tabungan untuk pernikahan yang akan berlangsung
5 minggu lagi. Dan… lagi-lagi perhatian kakaknya tercurah pada pekerjaan juga
calon istrinya.
“ Oia, nih jatah uang jajanmu untuk satu minggu! Takutnya kalau
nanti pagi aa belum bangun” kakaknya mengasongkan selembar uang lima puluh
ribuan, lantas hilang di balik pintu kamar.
‘ Makasih a!” Elin tersenyum mengembang, lalu bersegera memasukan
motor kedalam rumah dan pergi ke kamar mandi untuk melaksanakan sholat. Ada
untungnya juga kakaknya pulang pagi, hhikhik.
Setelah mengerjakan ini dan itu sebagai tugas di rumah, Elin pun
siap untuk pergi kuliah. Tak biasanya ia memoles pipi tembemnya denga bedak,
sedikit pakai handbody, dan merias kerudungnya dengan model baru. Hari ini
mungkin hormone progesteronya berada didataran tinggi.
“ Siap beraksi didepan Kai!” Elin tersenyum. “ Eh, ko, Kaisar?
Haduwh haduwh. Ko aku ingat dia sih” Elin membanting kepalanya engan jari
telunjuk yang ditekuk.
Kaki yang dibawa Elin menuju ruang kelas, tanpa diperintah
tiba-tiba mengalun dengan pelan, karena dia berjalan ke hulu lumayan jauh. Elin
pun menuruti keinginan kaki walaupun ia tahu 10 menit lagi jam mata kuliah akan
segera dimulai.
“ Hei! E..lin ya!” seseorang menyapa Elin sembari menyenggol
badannya. Elin melirik.
‘ Ya, Tuhan. Mimpi apa aku semalam. Sehingga aku bisa dekat dengan
dia, bahkan dia menyapaku’ Elin hanya bisa tersenyum.
“ Sendirian aja, ga bareng sama yang lain?” Elin lagi-lagi
tersenyum. Langkah Elin dan Kaisar berbarengan.
/” Ko ga jawab, aneh!” Kaisar berceloteh. Sesekali ia merogoh tas
infocus yang berada dibahu kirinya. Elin teta[ tidak menggubris.
‘ Deg-degan sungguh’ Meskipun batinnya terguncang oleh rasa
bahagia, tapi ia masih inagt koridor yang ditetepkan islam dalam masalah
pergaulan kaum Adam dan kaum Hawa. Elin memperlambat langkahnya supaya Kiasar
berada didepannya.
“ Begitulah!” Elin menyemburkan nafasnya ke hidung seperti yang
sering ia lakukan.
“ Oh!’ singkat Kaisar.
“ Kaisar!” sayup-sayup terdengar suara yang memanggil Kaisar persis
di belakang Elin. Elin tak acuh mendengarnya. Ia pikir sura itu berasal dari
suara batinnya.
“ Kaisar!” na, suara itu terdengar lagi. Ini berarti suara itu
bukan dari dirimya tapi memang ada orang yang memanggil KAISAR.
“ Kaisar tunggu!” perintah orang tersebut. Sebelum Elin berbalik,
orang itu sudah disamping Kaisar.
“ Hei” suara Kaisar begitu lembut. Beda dengan ucapannya ketika
menyapa Elin tadi. Terjadilah percakapan antara keduanya. Elin meringis, baru saj
ia merasa di langit ke tujuh tapi sedetik kemudian terkubur dalam tanah.
‘ Kaisar dekat dengan Annisa ternyata’ pikir Elin. Hufh,,
langkahnya semakin diperlambat. Dia menatap semu punggung Kaisar.
Dua jam berlangsung di mata kuliah biologi Umum kelar di geluti
oleh puluhan mahasiswa semester 1. Seperti biasa empat jam mereka harus
menunggu untuk menikmati sajian mata kuliah lain.
“ Teman-teman jangan bubar dulu sebentar” kata Kaisarseusai dosen
Biologi Umum keluar kelas.. “ Ini ada pengumuman dari HIMA. Bagi kalian yang
ingin mengikuti litbangyang diadakan HIMA. Silakan daftar ke Kai!” anak-anak
berebut untuk mendaftar di sekretaris. “ Oia, litbang dibagi menjadi tiga.
Kalian pilih salah satunya. Ada zoo, vito, dan mikro. Sok silakan yang mau!”
suruh Kaisar sembari membereskan terminal infocus yang bercecer.
“ Lin, kau mau ikut yang mana?” tanya Eva.
“ Tau nih” Elin tersenyum dengan terpaksa. Dia tidak beranjak dari
kursinya.
“ kalau aku mau vito, aku kesana dulu ya!”
“ Siph, siph, siph!”
Hanya butuh dua ajm saja untuk mengena Kaisar bagaimana. Dua jam
ini Elin terus memperhatikan Kaisar dan gelagatnya. Sekarang ia tahu hal apa
yang menyebabkan Kaisar dekat dengan Annisa. Itu karena Annisa sering mengajari
Kaisar mata kuliah yang ketinggalan, maklum kosma. Waktunya terbagi-bagi untuk
kelas, untuk akademik ataupun non akademik. Dan, anak-anak sedah mengetahui
kedekatam mereka.
“ kamu ga daftar Lin?” tnya Eva yang sudah mendaftar.
“ Engga kayaknya!”
“ Beneran?” ungkap Eva tak percaya.
“ Iya, aku lebih minat ke nulis daripada penelitian.”
“ Oh! Yok, capcus keluar kelas, gerah nih!”
“ duluan aja deh. Soalnya aku mau ke kamar mandi dulu!” Elin
beralasan.
“ Okeh deh. Di tunggu di hotspot biasa ya!”
“ Siph!” Elin berlari kecil menuju kamar mandi.
Baru saja ia keluar kamar mandi. Ia berpapasan dengan Kaisar.
‘ Walah kenapa harus ketemu disini sih’
“ Hei!” Kaisar menyapa. Elin tersenyum masam. “ Tiap kali ketemu
kamu sendiri aja. Ga bareng anak-anak?”
‘ La wong ntar terkubur dalam tanahpun sendiri’ Elin menggerutu dalam
hati.
“ Duluan ya!” Kaisar pergi dari hadapannya, tanpa mengharap jawaban
dari Elin.
‘ aku heran. Di dalam kelas aja, boro-boro nyapa ngelirik aku aja
ga pernah. Ini, kalau ga ad anak-anak nyapa. Malah nanya, seperti perhatian
begitu. Kaisar aneh!. Hanya saja rasa deg-degan itu lama-kelamaan berubah
menjadi rasa nyaman. Seperti dekat dengan orang yang sudah lama kenal. Aa? Ada
apa dengan Elin. Adanya rasa kehangatan itu sama ketika Elin bisa lihat aa,
dapat perhatian aa. Perhatian itu seperti sayangnya kaka kepada adiknya. Tak
sering tapi sekalinya mengungkapkan khawatirnya laksana kehilangan kegundahan
sesaat’.
Sejurus kemudian, Elin menuju hotspot yang diincar teman-temannya.
Kurang lebih 10 menit sudah sampai di lantai 1. Tapi, tak ada anak-anak disana.
Kemana mereka? Elin memutuskan untuk berkeliling sembari sms Eva.
‘ Walah hapeku! Apa ketinggalan?’ ia meraba tas punggungnya. Haa,
Elin berkeliling selama setengah jam di lantai 1 dan 2. Tak ada anak-anak disana. ‘ Kemana mereka?’
“ Hei!” Elin kaget. “ Ketemu lagi, lagi ngapain? Kaga masuk kelas?”
Elin mengernyitkan dahi. “ Kamu ga dapat jarkom?” Elin menggeleng. “ Hari ini
dosen kimia masuk lebih awal, udah di lantai lima tuh!” Kaisar melangkah menuju
tangga sembari menenteng infocus.
“ Hapeku tertinggal” ucap Elin pelan.
“ Oh! Ayo!”
“ Iya a!” Elin memanggil dengan sebutan kakak. Tanpa pikir panjang
Elin menguntit di belakang Kaisar.
Kaisar melirik. Elin memberi senyum.
* * *
Ini akhir romantisme yang ada dalam lubuk hati ini. Tak semua yang
kita rasakan berupa deg-degan adalah cinta karena hawa nafsu melihat
kepiawaiannya. Yang kudapati sekarang lebih baik daripada memilih jatuh cinta
pada dia. Tidak seperti rasa kasih yang tertanam pada dua insan di mabuk cinta
yang mudah roboh. Kini aku merasakn punya dua kasih saying dari dua orang
kakak. Di rumah ada A Bian, di kampus ada Kaisar. Dan, mungkin lebih baik
begitu.