Kamis, 09 Februari 2017

MAhasiswa, di Kepalmu Perubahan




Dan, saya menuliskannya dengan menangis.
Betapa tidak! Dengan jumlah yang tidak terduga, 10.000 mahasiswa muslim  Indonesia menginjakan kakinya di Ibu kota hanya dengan satu perjuangan. Dan satu misi ini tidak bisa ditandingkan dengan kekuatan lain karena perjuangan ini adalah perjuangan untuk Islam.
Mahasiswa adalah ujung tombak perubahan. Segala yang tidak mungkin terjadi menjadi mungkin meskipun  banyak  orang yang tidak dapat mempercayainya bahkan sampai memperolok apa yang mereka serukan. Apalagi pergerakan mahasiswa ini tidak hanya mengkritisi pemerintah sekarang dengan segala tipu daya yang manis dibibir namun pahit dalam realita, melainkan kita akan memberikan solusi atas semua permasalahan yang menimpa negeri tercinta ini. Akibatnya, mendapatkan gunjingan dan disepelekan menjadi santapan mahasiswa muslim setiap harinya.
Namun, ketika kita menelusuri sejarah perubahan besar, perubahan lahir di tangan-tangan solutif mahasiswa. Masihkah ingat bagaimana pertarungan ditahun 60’an tahun ’98 puncak dan akhir dari perjuangan mahasiswa yang nantinya dibungkam oleh rezim kekufuran yang bernama Orde baru.
Kita tidak akan banyak membahas tentang hal itu, kita hanya akan bercerita mengenai sebuah kongres mahasiswa Islam pada awal abad ke-21 yang berbeda dari biasanya. Kongres mahasiswa yang bukan asal gerak demi kepentingan, ini dilandasi dengan keimanan dan ketakwaan pada Pemilik Agung Bumi dan seisinya, Allah Swt. Ini adalah sebuah resolusi dari sekian banyak yang ditawarkan mahasiswa untuk Indonesia lebih baik. Resolusi modern yang tidak bisa terelakan karena memegang Al-qur’an dan As-Sunnah sebagai pedoman perjuangan. Perjalanan akan kita mulai dari sampainya kami di depan Monumen Sejarah kemerdekaan Indonesia, Gelora Bung Karno.
Pagi itu, kami mahasiswa dari Bandung beranjak pergi menuju depan gedung Majelis Permusyawaratan Rakyat dengan perasaan was-was. Coba bayangkan sahabat, setelah menyetel perlengkapan dan sarapan di masjid Albina, GBK, kami harus menyusuri keramaian masyarakat di wilayah Gelora Bung Karno -konon menjadi sejarah kemerdekaan Indonesia- yang sedang melaksanakan senam pagi dengan suara yang menantang langit. Kami mahasiswa muslim indonesia menyerukan penerapan Islam di Indonesia namun sepertinya bukan menjadi bagian dari pilihan mereka.
Toa yang menjadi andalan kami untuk menyampaikan yel-yel untuk menderu semangat kali ini hanya menjadi suara remang di sudut lapangan itu. Semakin kami menyuarakan resolusi kami terhadap keterpurukan itu, semakin besar pula nyali pembawa acara senam melantangkan kata Indonesia dan nasionalismenya dengan disertai gerakan lincah dari sang penari bayaran yang memakai kostum ala kebarat-baratan.
Waktu baru saja menunjukan pukul 7 pagi, namun panas yang hendak disampaikan langit ibu kota semakin menambah panas yang bergejolak dalam dada kami untuk segera beranjak dari tempat itu. Tak adakah sedikit saja geram dalam hati kalian untuk kemungkaran yang merajarela, atau mungkin kalianlah yang melakukan kemungkaran itu?Ada apakah dengan kalian? Apakah menjadi apatis adalah sebuah daftar pilihan kalian untuk kemajuan negeri ini? Membiarkan pula kota pusat kegiatan negeri ini menjadi kota mati tanpa perbaikan apapun. Yang ada menjadi pusat masalah dari segala masalah yang ada. Silakan dengan aktivitas mu, maka nanti kami akan merubahnya agar menjadi generasi yang qur’ani.
Kami beranjak pergi, meninggalkan kemungkaran itu terjadi dengan suara yang raib di telan angin pagi. Tak sabar rasanya melihat kerumunan masa di depan gedung yang katanya sering membuat Undang-Undang untuk Negeri dan menandingi Undang-Undang dari Sang Pemilik Hari. Di ibu kota, berjalan setengah kilo saja ibarat mengayuh sepeda ke atas puncak bukit. Tidak ada yang berubah dari suhu yang dapat kami rasakan. Namun semangat menerjang kekufuran itu tidak bisa di redam oleh apapun. Penjagaan ketat dari aparat kepolisian pun menjadi sulutan api, kami akan membuktikan pak, bahwa aksi ini tidak akan memicu provokasi atau bahkan sampai terjadi kericuhan yang tak terkendali.
“Mahasiswa, (Mahasiswa). Dikepalmu Khilafah, (Khilafah).” Hentakan gairah dari MC yang tengah berdiri di atas podium, tiba-tiba saja membuat saya membelai pipi yang basah. Dan tanpa diperintah saya ikut meniru perkataan MC yang penuh dengan seruan. Dada saya memanas, mengimbangi panas yang diturunkan langit. Tentu semangat ini bukan hanya karena berkumpulnya masa, melainkan karena ingin menumpahkan kedzaliman yang menjadi sorotan utama di media masa.
Ada banyak singa podium yang memacu adrenalin saya. Terlebih ketika disampaikannya orasi mengenai kebobrokan demokrasi yang berasas pada sistem liberalis kapitalism. Dan lagi-lagi saya hanya bisa menangis sambil menyerukan kepahitan yang di alami semua umat manusia karena Islam ditinggalkan. Wahai manusia yang masih memiliki hati dan ruh untuk memurnikan Zat Sang Pencipta, kalian bisa membayangkan bagaimana sistem demokrasi dengan asas empat kebebasannya dapat merusak generasi ini? Dengan kebebasan Ketuhanannya demokrasi bisa menerima aspirasi masyarakat jika ingin nikah beda agama atau nikah sesama jenis. Kebebasan berperilaku pula, 7,2 juta wanita menjadi pelaku aborsi tiap tahunnya. Apa kalian tidak melihat kebebasan kepemilikannya gunung yang kaya akan bahan tambang di jual untuk kepentingan ekonomi asing? Bagaimana pula sistem ini seperti pisau, tumpul ke atas dan tajam ke bawah. HAM diagungkan tanpa melihat bertentangan atau tidaknya dengan aturan Sang Pemilik Kehidupan. Giliran yang mau menerapkan Islam ditentang sebagai sebuah perpecahan NKRI. We Need Khilafah, not Democracy and Liberal Capitalism Allahu Akbar. Dan saya mengucurkan air mata lagi lagi dan lagi. Allahu Akbar. Allahu Akbar!!
Tapi ada sesuatu yang menganjal dalam benak saya. Lho, apakah kongres mahasiswa ini tidak menjadi tranding topic perjuangan mahasiswa di kalangan media masa? Tidak ada media nasional pun yang meliput. Apa media masa pun kembali dikendalikan oleh asing? Innalillahi wa inna illaihi rojiun. Hah, ber-khusnudzan saja lah. Toh, malaikat akan mencatatnya dalam sejarah kehidupan bahwa pergerakan mahasiswa tidak bisa dikekang oleh pemerintah sekalipun. Apalagi perjuangan ini adalah untuk menyeru  agama Allah agar diterapkan di seluruh aspek kehidupan.
Matahari yang panasnya tidak banyak terhalang oleh lapisan langit karena efek rumah kaca pun menjadi saksi perjuangan ini. Memang ada kalanya lelah menggoda, namun lelah akan menjadi bagian dari mahasiswa muslim indonesia sebagai pengobat dan kekuatan yang memulihkan kembali energi yang sempat hilang hingga kelelahan hanya akan menjadi saksi bahwa lelah kita diberikan hanya untuk Islam. Saya rasa lelah ini kuranglah cukup di bandingkan dengan pengorbanan Rasulullah dengan para sahabat ketika menjalani perang melawan kafir quraisy. Cuaca di Jakarta amatlah berbeda dengan di arab sana. Panas yang mengantam Rasululllah masih jauh dari apa yang saya rasakan kala itu. Namun perjuangan Rasullullah dan para sahabat tidak lekas usai, perang tetap saja terjadi meski tanpa alas kaki. Lantas kita? Apakah perjuangannya akan sampai sini saja? Tentu tidak.
Dan fajar kemenangan itu akan segera tiba. Saya akan tutup dengan sebuah gelora yang di sampaikan singa podium senior kala itu.”Al-Khilafah Wahdullah, Bisyarah Rosulullah, Wa Nahnu Ansorullah”. Panas kian menjulang, rumput yang menguning pun menyiar bau kekhasan, perjalanan ini mencapai puncak ketika ada perwakilan dari mahasiswa mendatangi Istana Negara untuk memberikan resolusi terhadap persiden yang baru dan disambut oleh angkatan bersenjata. Allahu akbar!! Resolusi mahasiswa Islam di terima. Resolusi mahasiswa untuk menyeru pada Islam pada Presiden yang terhormat.
Sebuah surat cinta dari Sang pembuat aturan “ Hai orang-orang yang beriman, barang siapa yang menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu” QS. Muhammad:7.
Mahasiswa, di kepalmu perubahan dan inilah perjuanganku. Kapan giliranmu?
#ICMS2014