Minggu, 21 Desember 2014

Cintai Ia Dalam Ketaatan


Oleh: Hiruma
Menyoal gharizatun na’u (naluri berkasih sayang), layaknya berbicara makan bagi makhluk hidup. Fitrah yang ada pada setiap diri manusia dan tidak bisa dihilangkan. Ketika kita lapar dan memuaskan dengan makan akan memberi rasa kenyang pada perut. Begitulah naluri ini. Ketika perasaan cinta terpupuk karena kedewasaan dan mengamati lingkungan sekitar, ada kalanya gharizatun na’u ini ingin memuaskannya baik lewat pacaran atau pernikahan.
Bagi aktivis jahiliyah, pemuasan na’u dapat terealisasi dengan menggebet calonnya untuk dijadikan pacar. Apapun cara akan dilakukan agar incaranya rela untuk menjadi pacarnya. Termasuk dalam koridor yang telah ditentukan Allah dalam kategori haram, mendekati zina (QS. Al-israa [17]:32). Mendekati zina bukan berarti zina lho (itu lho, hubungan jika sudah menikah). Tapi apapun yang mendekati zina seperti pegangan tangan yang membuat dagdigdug, saling menatap, rangkulan, dan lain sebagainya.
Sahabat, tidakkah kalian tahu bahwa data survei terhadap beberapa remaja (SMP-SMA-Univ) di Indonesia menyebutkan 62,7% responden mengaku sudah tidak perawan lagi (Pen. Komisi Nasional Perlindungan Anak, 2008). Hebat betul bukan ketika pemuda berbicara cinta atau naluri kasih sayang tersebut.  Pemuasan yang tidak dikendaki ini berbuah pada menurunnya moral pemuda terutama perempuan. Hal ini disebabkan oleh kurangnya pendidikan agama terhadap pemuda. Jelas kecil, dari tahun ke tahun sistem pendidikan di negeri ini terus saja mengalami perubahan dan semakin mencekik.
Contohnya saja pada kebanyakan Universitas Negeri yang memadatkan SKS (Sistem Kredit Semester) namun berujung pada penambahan jam kuliah. Pemuda sekarang menghabiskan waktunya untuk belajar sains dan teknologi beserta mengerjakan tugas yang tidak ketulungan dari dosen. Mengurangi kegiatannya dalam menambah pengetahuan agama adalah dampaknya. Ujung-ujungnya pemenuhan na’u yang ada bisa dilakukan dengan pacaran, hedonisme ketika akhir pekan dan bisa mencapai tingkat dosa paling besar, yakni zina. Na’uzubillah.
So, sahabat kita mesti tahu bagaimana pemenuhan na’u ketika virus merah jambu itu datang tanpa menabrak aturan Pencipta kita. Simak. . .
Bagi aktivis dakwah, pemenuhan ini ternyata bisa dilakukan dengan berbagai cara.
Pertama, mari kita buka surat cinta dari Maha Kasih Allah Swt : Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk (QS. Al-israa [17]:32). Menjauhi zina termasuk ke dalam salah satu larangan Allah agar manusia dapat merasakan nikmat cinta dengan cara yang baik. Tidak akan ada namanya hamil di luar nikah atau aborsi karena bayi hasil dari zina memiliki ayah yang tidak bertanggung jawab. Yang ada hanya mendapatkan keluarga yang SAMARA alias Sakinah Mawadah wa Rahmah.
Kedua camkan sabda Rasulullah Saw berikut: "Barangsiapa yang beriman pada Allah dan hari akhir, maka janganlah melakukan khalwat dengan seorang wanita yang tidak disertai mahramnya karena sesungguhnya yang ketiganya adalah syetan"(HR Ahmad). Sahabat, kita tentu mengetahui bagaimana asal mula syetan mengusik manusia. ia tidak akan pernah diam menjerumuskan hamba Allah Swt dalam jurang kenistaan. Syetan akan menggoda manusia dari berbagai penjuru dan berbagai cara. Salah satunya ya khalwat ini.
Ketiga, kita akan bertanya kepada Allah lagi. Dan Allah Swt telah meramunya dalam kitab suci yakni “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat." (QS. An-nuur [24]:30).
Dan ini ditegaskan oleh sabda Nabi Saw: “Penglihatan itu ibarat sebuah anak panah beracun iblis. Siapa yang meninggalkannya karena takut kepada Allah maka Allah akan memberinya keimanan yang akan ia temukan kelezatannya di dalam kalbu” (HR. Al-Hakim).
Menundukan pandanga bukan berarti menunduk saat berjalan dan menabrak lho. Menundukan pandangan bisa berarti tidak mempergunakan penglihatan kita untuk memandang kemolekan gadis yang lewat di depan atau rijal yang ganteng seperti Kim Soo Hyun mungkin. Pada dasarnya penglihatan yang tidak di jaga akan menjurus ke hati yang merasakan dan pikiran yang menghayal.
Adapun yang keempat (terakhir) untuk pemenuhan gharizah na’u adalah dengan menikah atau shaum. Rasulullah SAW bersabda “Wahai sekalian pemuda, barangsiapa diantara kalian yang telah memiliki kemampuan untuk menikah, maka hendaklah segera menikah, karena menikah akan lebih menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Dan barangsiapa yang belum mampu maka hendaklah shaum karena shaum akan menjadi perisai baginya.” ( HR. Bukhari dan Muslim).
Masya Allah begitu sayangnya Allah kepada kita (hamba) yang mungkin sering melakukan penghianatan terhadap-Nya. Namun, jelas Allah telah menuntun kita untuk pemenuhan gharizah na’u dengan cara yang baik.
Adapun “Cintai Ia Dalam Ketaatan” sekarang menjadi headline news di majalah aktivis dakwah tahun ini. Bagaimana tidak, di tahun 2014 telah banyak aktivis dakwah terutama nisa yang melangsungkan pernikahan dengan ikhwan yang mempunyai label yang sama meskipun dalam usia yang cukup muda (usia kuliah). Hal ini membuat kawan-kawan aktivis yang lain merasa di gencot emosionalnya untuk melakukan hal yang sama. Menikah adalah sebuah kata sakral bagi pengemban risalah islam. Mengikat dua insan yang di mabuk cinta karena ketaatan kepada Allah saja. Namun, ibarat upik merindukan bulan. Bagi aktivis nisa, obrolan seputar pernikahan hanya menjadi kegalauan semata di tengah kesibukannya dalam dakwah.
Cintai Ia dalam ketaatan dirasakan pula oleh rijal atau nisa yang pernah mengalami khitbah. Khusus nisa yang pernah menolak khitbah, seiring dengan perkembangan waktu ada selentingan dari rijal yang di tolak “Di balik ikhwan yang hebat ada akhwat yang menyesal”. Bukankah ini letupan emosional yang tidak dapat terkendali meski ada dalam qalbu seorang pengemban dakwah sekalipun.
Prinsip hidup seorang rijal “Di balik ikhwan yang hebat ada akhwat yang menyesal” ketika di tolak khitbahnya membuat nisa merenung diri. Betulkah ketika ia menolak adalah penyesalan yang di dapat? Tentu harus kita kaji terlebih dahulu sebelum menyimpulkan apapun.
Prinsip rijal tersebut belum tentu sepenuhnya benar lho. Hanya saja, ini adalah cambuk untuk rijal akan senantiasa memperbaiki diri. Jikalau nisa yang dikhitbahnya adalah seorang muslimah hafidz maka rijal akan berusaha untuk menjadi hafidz pula begitu seterusnya hingga ia mencapai keimanan dan ketakwaan dengan derajat yang tinggi. Begitu juga dengan nisa. Jangan bersedih kawan. Karena sebenarnya Allah telah menyediakan seorang rijal yang terbaik untuk menjadi kekasih seumur hidupmu. Coba simak penuturan Allah dalam ayat berikut:
Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga)” (QS. An-nuur [24]:26).
So, tidak usah risau. Pengalaman ini membuat kita bersiap diri bukan? Ketika ada yang mengkhitbah kita untuk kedua kalinya tidak akan kaget lagi.
Menunggu apakah salah satu dari sikap kita mempersiapkan diri? Tidak mungkin nisa lah yang meminta duluan si rijal untuk mengkhitbahnya, meskipun asal hukumnya boleh menawarkan diri seperti yang telah di contohkan Ummu mukminin Khadijah Binti Khuwalid terhadap baginda Rasulullah (QS. Al-mumtahanah [60]:12). Terlebih jika ada nisa yang sudah siap untuk menikah baik dari segi umur atau mental. Maka dari itu, sabar yang menjadi kunci utama dalam perkara ini.
Dalam acara Daurah Islamiyah yang diselenggarakan pada salah satu organisasi dakwah kampus di Bandung (28/11) setidaknya cukup mengingatkan kita pada sikap sabar yang seharusnya selalu ada dalam diri muslim. Nah lho, apa hubungannya? Mari kita simak. . .
Menurut Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah “Sabar adalah meneguhkan diri dalam menjalankan ketaatan kepada Allah, menahannya dari perbuatan maksiat kepada Allah, serta menjaganya dari perasaan dan sikap marah dalam menghadapi takdir Allah.” (Syarh Tsalatsatul Ushul, hal. 24).
Ini artinya dalam perkara sabar menunggu seorang pria gagah yang menaiki kuda putih adalah hal yang mubah. Ketika hukumnya mubah, maka perkara ini jika di bahas tidak berpahala karena tidak termasuk dalam ketiga kategori yang disebutkan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah.
Namun, cintai Ia dalam ketaatan setidaknya membuat kita semangat untuk menjalani hidup, karena pada dasarnya ada hal yang lebih penting ketimbang berurusan dengan na’u yang belum mendapatkan pemenuhannya. Apa itu? D’! dakwah/seruan.
Dakwah adalah kewajiban sahabat. Sebagaimana yang di perintahkan Allah Swt dalam QS. An-Nahl [16]:125
ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
Artinya: Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan palajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.  Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari Jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.
Sahabat, cintailah ia dalam ketaatan. Mari saling beramar makruf nahi mungkar. Sambil menunggu datangnya pujaan hati, gunakanlah hari-hari mu untuk mempelajari islam lebih dalam, tunduk pada aturan Allah dan menyebarkannya kepada yang lain yakni dengan dakwah. Masyarakat membutuhkan kita untuk memperbaiki moral yang telah di rusak oleh kaum-kaum yang benci akan islam. Penuhilah na’u mu dengan bentuk sebuah ketaatan, Insya Allah berkah.
Selesai. Wallahu ‘Alam bish shawab.