Minggu, 03 Juni 2018

Bukan Pernikahan Cinderella





”Menikah bukan perkara wah, tapi sah.”

Begitulah nasehat yang sering saya dengan dari beberapa kawan. Memang benar, awalnya saya bercita-cita menikah di usia 23 tahun, bersama pria tampan berwajah putih bersih dan tinggi semapai, intinya yang di damba adalah fisik semata.

“Menikah bukan untuk berpacaran halal, melainkan menambah amanah yang besar.”

Nasehat ini berasal dari seorang guru spritual yang luar biasa. Karena setelah menikah bukan lagi menyoal aku dan kamu, tapi “KITA”.

“Menikah bukan menghindari masalah tapi menghadapi masalah.”

Kata Karena dengan menikah bukan menyoal aku dan kamu, tapi dua keluarga yang salaing berbeda. Tanggung jawab mengurus rumah juga mendidik anak adalah salah satu tugasnya.
Seperti yang pernah diucapkan Fatimah R.A. “Jagalah pandangannya, jagalah perutnya, dan jagalah barangnya sehingga kau akan menjadi istri yang sholihah”

“Menikah itu butuh ilmu bukan hanya sekedar mau”

Amal tanpa disertai ilmu akan tertolak, sedangkan ilmu tanpa amal akan sia-sia. Bagaimana tidak,  tanpa ilmu kita akan goyah diterpa badai meski angin tidak cukup kuat datang. Apalagi jika yang datang adalah angin topan. So, menikah butuh ilmu  guys. Contoh sederhana adalah saat hendak menyiapkan pakaian suami pergi bekerja. Sementara kita tidak mengetahui bagaimana kebiasaan suami dengan pakaian yang hendak dikenakannya. Ah, artinya unssur komunikasi memang perlu dan saling menghargai.

This Spesial Moment









Alhamdulillah ‘Ala Kulli Hal

Tepat di hari sabtu tanggal 5 Mei 2018 atau bertepatan dengan 19 Sya’ban 1439 H kami melangsungkan akad nikah. Sederhana memang! Tidak ada dangdut atau live performance dari nasyid atau qasidah. Ya, hanya di iringi lagu yang bersumber dari kumpulan mp3 di handphone android jadul.

Tsumma alhamdulillah. Momen yang yang paling menggembirakan adalah saya dan suami bisa melaksanakan Walimatul ‘Ursy sesuai hukum Syara. Betapa banyak di luar sana harus makan hati karena momen spesial harus ternodai dengan ikhtilat tamu laki-laki dan perempuan.

Tsumma alhamdulillah. Tak terasa dua hari lagi usia pernikahan kami genap satu bulan. 

Kawan, kalian bisa membayangkan tidak, dua insan yang tidak saling mengenal ini hidup satu rumah untuk selama-lamanya. Saling tatap dalam proses ta’aruf saja tidak pernah. Mendadak saat sah, kami (terutama saya) harus mengecup punggung tangan suami, seorang ikhwan. Saya merasakan pening di kepala saat hendak memegang tangan yang nanti akan menjadi tulang punggung keluarga itu. 

Sementara itu, pihak photografer sudah mendesak untuk mengabadikan momen tersebut. Bismillah.. suatu kebahagian tersendiri bisa membelai tangannya, tangan yang mungkin tak layak jadi aktor seperti Kim Soo Hyun yang cute. Ia lebih dari segalanya. tangan itulah yang akan melindungi perempuan yang masih kekanak-kanakan ini. 

Sampai akhir walimah kami tak saling tegur sapa. Menanyakan sudah makan apa belum saja tidak berani apalagi mengobrol hal-hal konyol yang sering saya lihat di akun-akun yang membagikan kemesraan bersama pasangan di akun publik. 

Namun, suami pernah bilang. “Kalau saya tidak memulai akan sampai mana hubungan ini berlanjut?” akhirnya, selepas acara meski suami terlihat begitu lelah, beliau mengajak saya jalan mengendarai motor di udara yang dingin menusuk hingga ke tulang. inilah pertama kali saya di bonceng cowo. OMG hehehe.

Tsumaa alhamdulillah. Begitu banyak nikmat yang Allah berikan kepada kami terutama saya karena bisa bertemu dengan lelaki sempurna seperti dia. Setiap hujjahnya sesuai hukum syara, setiap nasehatnya disertai dalil qathi, setiap ilmunya dia berikan penuh dengan cinta, dan belaiannya bentuk kasih sayang kepada istrinya. 

Tsumma alhamdulillah. Semoga pernikahan ini menjadi salah satu wasilah dakwah. Bukankah tujuan menikah adalah ibadah?

Saya adalah salah satu orang pilihan yang Allah titipkan mendapatkan amanah terbesar sepanjang hidup, yakni lelaki yang penuh dengan tanggung jawab menghantarkan saya bersama menuju Jannah-Nya. Semoga saya bisa mempertanggungjawabkan itu.

Love you so much, ayang. 

Wallahu Alam

Minggu, 29 April 2018

C.I.N.T.A



Kita bukan sepasang merpati yang bisa terbang bebas di angkasa tatkala kita menyatu atas izin-Nya
Kita bukan sekedar mutiara di lautan yang berhasil tercipta dari pasir di batu karang
Kita adalah sepasang kekasih yang berjuang dalam bahtera kehidupan

Tahukah kau, ini pertama kalinya aku menulis kisah kita meski belum memulainya
Meski rasa ini belum terjamah seperti apa
Cinta, kau adalah di antara ayat-ayat-Nya
Dan aku memutuskan untuk bersamamu, menyemai untaian drama masa depan
Aku pun gantungkan hidupku padamu
Untuk berlari menggapai garis puncak kejayaan
Apa itu?
Syurga firdaus

Cinta,
Aku putus asa di tengah kesibukan duniaku
Cinta,
Aku terasing
Cinta,
Akulah yang salah terlahir di kehidupan
Cinta,
Aku beban setiap yang dekat

Namun, Allah selalu mengingatkanku
Aku istimewa
Aku bahagia
Aku mempunyai kelebihan

Jadi, bukankah aku ini harus kuat?
Cinta,
Dan kaulah salah satu obat terkuatku
Maka, bertahanlah ya
Walau sedikit waktu saja.
Bersamamu, aku memulai hidup baru
Menjadi manusia-manusia kuat