Jumat, 08 November 2013

Rindu ku Padamu




Lihatlah tatapan mentari di ufuk timur
Tertawa sendu memandangi hati
Bertaburkan pendaran bintang fajar
Laksana sorotan mata bidadari yang mengintip bumi
Menatap penuh kagum para hamba Allag
Yang tersungkur sujud menundukan jiwa
Kepada Rabbnya
Sahabat, seandainya engkau disini
Kan ku ajak engkau menari bersama pagi
Kan ku ajak engkau berlari menyalip sinar mentari
Namun engkau tak lagi ada di sampingku
Disini aku menantimu, wahai sahabat
(Fenfen Fenda Florena- ideal.is.me)
*                      *                              *
Syair di atas bukan syair yang aku buat sendiri., ah, lisan. Untuk berkata rindu saja sulit diungkapkan. Mengapa rindu itu muncul? Aku pun tak tahu mengapa tiba-tiba membuncah dalam selipan rutinitas belajar yang tiada henti.
Tahukah rindu ini mulai menyelusup?
Siang kemarin waktu aku pulang kuliah sedikit aku mendengar pembicaraan 2 orang remaja pria di angkot. Tertarik mendengarnya, aku pun merangkai informasi itu dalam benak. Satu diantaranya bercerita dengan semangat. Tokoh yang disebutnya lah yang menarik perhatianku. ‘Jiraya’ siapakah ia? Aku pun hanya mengerutkan kening. Apakah tokoh tersebut adalah tokoh jepang yang sedang tenar akan penemuan baru dalam IPTEK? Ah, perasaan. Aku sempat malu. Meskipun belajar sains sebagai tonggak kuliah, tapi aku sama sekali tidak mengenalnya.
Dengan serunya bercerita, aku pun merekam dan menyatukan satu demi satu kalimatnya. Lalu dari mulut pria berusia 16-an tahun itu keluar nama dewa kodok? Lho ko., hem., langsung ilfill. Ternyata cerita itu berkisah tentang tokoh kartun di episode tertentu. Iya, tentu tahu dengan tokoh utama yang berteman dengan sasuke atau sakura bukan?
Melirik dari persoalan tadi. Aku bisa merangkai kejadian yang sering dilakukan remaja. Masih ingatkah bulan oktober lalu teriar berita mengenai anak SMP yang bertindak asusila dan itu di rekam? Belum hilang di benak pula di pertengahan tahun 2013 seorang anak SMP di Surabaya menjadi mucikari teman-temanya. Sebuah kontradiksi bukan?
Sungguh aku rindu. Amat rindu seorang gadis kepada sahabatnya yang pergi jauh tanpa berita tanpa perkembangan. Aku rindu ada seseorang yang perawakannya seperti Mus’ab bin Umair yang sedikit ilmunya namun bisa menaklukan Madinah dengan bukti membawa suku Aus dan Khazraj masuk Islam. Aku pun rindu pada sosok pedangnya Allah, Khalid bin Walid karena dengan kecerdikannya mampu mengalahkan kafir Quraisy di perang Mu’tah. Ah, sunggu rindu.

Tapi apakah masih bisa aku temukan remaja pejuang Islam satu kali lagi saja jika pada faktanya aku menemukan hal yang seperti tadi.
Bisa! Tentu bisa. Tapi dengan cara apa? Allah secara langsung menjawabnya (TQS. Al-a’raf: 163-165)
163. Dan tanyakanlah kepada Bani Israil tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu, di waktu datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada disekitar) mereka terapung-apung di permukaan air, dan di hari-hari bukan Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah Kami mencoba mereka disebabkan mereka berlaku fasik.
164. Dan (ingatlah) ketika suatu umat diantara mereka berkata: “Mengapa kamu menasehati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab dengan azab yang amat keras?” Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Rabbmu, dan supaya mereka bertaqwa”.
165. Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik.
Dakwah adalah satu-satunya jalan untuk merubah pemikiran mereka dari yang rendah ke yang tinggi. Bahwa islam adalah tolak ukur perbuatan bukan karena asas manfaat atau kesenangan semata.
Allohua’lam bish showab

Tidak ada komentar:

Posting Komentar