Lihatlah tatapan mentari di ufuk
timur
Tertawa sendu memandangi hati
Bertaburkan pendaran bintang fajar
Laksana sorotan mata bidadari yang
mengintip bumi
Menatap penuh kagum para hamba
Allag
Yang tersungkur sujud menundukan
jiwa
Kepada Rabbnya
Sahabat, seandainya engkau disini
Kan ku ajak engkau menari bersama
pagi
Kan ku ajak engkau berlari
menyalip sinar mentari
Namun engkau tak lagi ada di
sampingku
Disini aku menantimu, wahai
sahabat
(Fenfen Fenda Florena- ideal.is.me)
* * *
Syair di atas bukan syair yang aku
buat sendiri., ah, lisan. Untuk berkata rindu saja sulit diungkapkan. Mengapa rindu
itu muncul? Aku pun tak tahu mengapa tiba-tiba membuncah dalam selipan
rutinitas belajar yang tiada henti.
Tahukah rindu ini mulai
menyelusup?
Siang kemarin waktu aku pulang
kuliah sedikit aku mendengar pembicaraan 2 orang remaja pria di angkot. Tertarik
mendengarnya, aku pun merangkai informasi itu dalam benak. Satu diantaranya
bercerita dengan semangat. Tokoh yang disebutnya lah yang menarik perhatianku. ‘Jiraya’
siapakah ia? Aku pun hanya mengerutkan kening. Apakah tokoh tersebut adalah
tokoh jepang yang sedang tenar akan penemuan baru dalam IPTEK? Ah, perasaan. Aku
sempat malu. Meskipun belajar sains sebagai tonggak kuliah, tapi aku sama
sekali tidak mengenalnya.
Dengan serunya bercerita, aku pun
merekam dan menyatukan satu demi satu kalimatnya. Lalu dari mulut pria berusia
16-an tahun itu keluar nama dewa kodok? Lho ko., hem., langsung ilfill. Ternyata
cerita itu berkisah tentang tokoh kartun di episode tertentu. Iya, tentu tahu
dengan tokoh utama yang berteman dengan sasuke atau sakura bukan?
Melirik dari persoalan tadi. Aku bisa
merangkai kejadian yang sering dilakukan remaja. Masih ingatkah bulan oktober
lalu teriar berita mengenai anak SMP yang bertindak asusila dan itu di rekam? Belum
hilang di benak pula di pertengahan tahun 2013 seorang anak SMP di Surabaya menjadi
mucikari teman-temanya. Sebuah kontradiksi bukan?
Sungguh aku rindu. Amat rindu
seorang gadis kepada sahabatnya yang pergi jauh tanpa berita tanpa
perkembangan. Aku rindu ada seseorang yang perawakannya seperti Mus’ab bin
Umair yang sedikit ilmunya namun bisa menaklukan Madinah dengan bukti membawa
suku Aus dan Khazraj masuk Islam. Aku pun rindu pada sosok pedangnya Allah,
Khalid bin Walid karena dengan kecerdikannya mampu mengalahkan kafir Quraisy di
perang Mu’tah. Ah, sunggu rindu.
Tapi apakah masih bisa aku temukan
remaja pejuang Islam satu kali lagi saja jika pada faktanya aku menemukan hal
yang seperti tadi.
Bisa! Tentu bisa. Tapi dengan cara
apa? Allah secara langsung menjawabnya (TQS. Al-a’raf: 163-165)
163. Dan tanyakanlah kepada Bani Israil tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu, di waktu datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada disekitar) mereka terapung-apung di permukaan air, dan di hari-hari bukan Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah Kami mencoba mereka disebabkan mereka berlaku fasik.
163. Dan tanyakanlah kepada Bani Israil tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu, di waktu datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada disekitar) mereka terapung-apung di permukaan air, dan di hari-hari bukan Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah Kami mencoba mereka disebabkan mereka berlaku fasik.
164. Dan
(ingatlah) ketika suatu umat diantara mereka berkata: “Mengapa kamu menasehati
kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab dengan azab yang amat
keras?” Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Rabbmu, dan
supaya mereka bertaqwa”.
165. Maka tatkala mereka melupakan
apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang
dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zalim siksaan
yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik.
Dakwah adalah satu-satunya jalan
untuk merubah pemikiran mereka dari yang rendah ke yang tinggi. Bahwa islam
adalah tolak ukur perbuatan bukan karena asas manfaat atau kesenangan semata.
Allohua’lam bish showab


Tidak ada komentar:
Posting Komentar