Dan,
saya menuliskannya dengan menangis.
Betapa tidak! Dengan
jumlah yang tidak terduga, 10.000
mahasiswa muslim Indonesia menginjakan kakinya di Ibu kota
hanya dengan satu perjuangan. Dan satu misi ini tidak bisa ditandingkan dengan
kekuatan lain karena perjuangan ini adalah perjuangan untuk Islam.
Mahasiswa adalah ujung
tombak perubahan. Segala yang tidak mungkin terjadi menjadi mungkin meskipun banyak
orang yang tidak dapat mempercayainya bahkan sampai memperolok apa yang
mereka serukan. Apalagi pergerakan mahasiswa ini tidak hanya mengkritisi
pemerintah sekarang dengan segala tipu daya yang manis dibibir namun pahit
dalam realita,
melainkan kita
akan memberikan solusi atas semua permasalahan yang menimpa negeri tercinta
ini. Akibatnya, mendapatkan gunjingan dan disepelekan menjadi
santapan
mahasiswa muslim
setiap harinya.
Namun, ketika kita menelusuri sejarah perubahan besar,
perubahan
lahir di tangan-tangan solutif mahasiswa. Masihkah ingat bagaimana pertarungan
ditahun 60’an tahun ’98 puncak dan akhir dari perjuangan mahasiswa yang
nantinya dibungkam oleh rezim kekufuran yang bernama Orde baru.
Kita tidak akan banyak membahas
tentang hal itu, kita hanya akan bercerita mengenai sebuah kongres mahasiswa Islam
pada awal abad ke-21 yang berbeda dari biasanya. Kongres mahasiswa yang bukan
asal gerak demi kepentingan, ini dilandasi dengan keimanan dan ketakwaan pada
Pemilik Agung Bumi dan seisinya, Allah Swt. Ini adalah sebuah resolusi dari
sekian banyak yang ditawarkan mahasiswa untuk Indonesia lebih baik. Resolusi
modern yang tidak bisa terelakan karena memegang Al-qur’an dan As-Sunnah
sebagai pedoman perjuangan. Perjalanan akan kita mulai dari sampainya kami di
depan Monumen Sejarah kemerdekaan Indonesia, Gelora Bung Karno.
Pagi itu, kami
mahasiswa dari Bandung beranjak pergi menuju depan gedung Majelis
Permusyawaratan Rakyat dengan perasaan was-was. Coba bayangkan sahabat, setelah
menyetel perlengkapan dan sarapan di masjid Albina, GBK, kami harus menyusuri
keramaian masyarakat di wilayah Gelora Bung Karno -konon menjadi sejarah
kemerdekaan Indonesia- yang sedang melaksanakan senam pagi dengan suara yang
menantang langit. Kami mahasiswa muslim indonesia menyerukan penerapan Islam di
Indonesia namun sepertinya bukan menjadi bagian dari pilihan mereka.
Toa yang menjadi
andalan kami untuk menyampaikan yel-yel untuk menderu semangat kali ini hanya
menjadi suara remang di sudut lapangan itu. Semakin kami menyuarakan resolusi
kami terhadap keterpurukan itu, semakin besar pula nyali pembawa acara senam
melantangkan kata Indonesia dan nasionalismenya dengan disertai gerakan lincah
dari sang penari bayaran yang memakai kostum ala kebarat-baratan.
Waktu baru saja
menunjukan pukul 7 pagi, namun panas yang hendak disampaikan langit ibu kota
semakin menambah panas yang bergejolak dalam dada kami untuk segera beranjak
dari tempat itu. Tak adakah sedikit saja geram dalam hati kalian untuk
kemungkaran yang merajarela, atau mungkin kalianlah yang melakukan kemungkaran
itu?Ada apakah dengan kalian? Apakah menjadi apatis adalah sebuah daftar
pilihan kalian untuk kemajuan negeri ini? Membiarkan pula kota pusat kegiatan
negeri ini menjadi kota mati tanpa perbaikan apapun. Yang ada menjadi pusat
masalah dari segala masalah yang ada. Silakan dengan aktivitas mu, maka nanti kami
akan merubahnya agar menjadi generasi yang qur’ani.
Kami beranjak pergi,
meninggalkan kemungkaran itu terjadi dengan suara yang raib di telan angin
pagi. Tak sabar rasanya melihat kerumunan masa di depan gedung yang katanya
sering membuat Undang-Undang untuk Negeri dan menandingi Undang-Undang dari
Sang Pemilik Hari. Di ibu kota, berjalan setengah kilo saja ibarat mengayuh
sepeda ke atas puncak bukit. Tidak ada yang berubah dari suhu yang dapat kami
rasakan. Namun semangat menerjang kekufuran itu tidak bisa di redam oleh
apapun. Penjagaan ketat dari aparat kepolisian pun menjadi sulutan api, kami akan membuktikan pak, bahwa aksi ini tidak akan memicu
provokasi atau bahkan sampai terjadi kericuhan yang tak terkendali.
“Mahasiswa,
(Mahasiswa). Dikepalmu Khilafah, (Khilafah).” Hentakan gairah dari MC yang
tengah berdiri di atas podium, tiba-tiba saja membuat saya membelai pipi yang
basah. Dan tanpa diperintah saya ikut meniru perkataan MC yang penuh dengan
seruan. Dada saya memanas, mengimbangi panas yang diturunkan langit. Tentu
semangat ini bukan hanya karena berkumpulnya masa, melainkan karena ingin
menumpahkan kedzaliman yang menjadi sorotan utama di media masa.
Ada banyak singa podium
yang memacu adrenalin saya. Terlebih ketika disampaikannya orasi mengenai
kebobrokan demokrasi yang berasas pada sistem liberalis kapitalism. Dan
lagi-lagi saya hanya bisa menangis sambil menyerukan kepahitan yang di alami
semua umat manusia karena Islam ditinggalkan. Wahai manusia yang masih memiliki hati dan ruh untuk memurnikan Zat
Sang Pencipta, kalian bisa membayangkan bagaimana sistem demokrasi dengan asas
empat kebebasannya dapat merusak generasi ini? Dengan kebebasan Ketuhanannya
demokrasi bisa menerima aspirasi masyarakat jika ingin nikah beda agama atau
nikah sesama jenis. Kebebasan berperilaku pula, 7,2 juta wanita menjadi pelaku
aborsi tiap tahunnya. Apa kalian tidak melihat kebebasan kepemilikannya gunung
yang kaya akan bahan tambang di jual untuk kepentingan ekonomi asing? Bagaimana
pula sistem ini seperti pisau, tumpul ke atas dan tajam ke bawah. HAM
diagungkan tanpa melihat bertentangan atau tidaknya dengan aturan Sang Pemilik
Kehidupan. Giliran yang mau menerapkan Islam ditentang sebagai sebuah
perpecahan NKRI. We Need Khilafah, not Democracy and Liberal Capitalism Allahu
Akbar. Dan saya mengucurkan air mata lagi lagi dan lagi. Allahu Akbar.
Allahu Akbar!!
Tapi ada sesuatu yang
menganjal dalam benak saya. Lho, apakah kongres mahasiswa ini tidak menjadi
tranding topic perjuangan mahasiswa di kalangan media masa? Tidak ada media
nasional pun yang meliput. Apa media masa pun kembali dikendalikan oleh asing?
Innalillahi wa inna illaihi rojiun. Hah, ber-khusnudzan saja lah. Toh, malaikat
akan mencatatnya dalam sejarah kehidupan bahwa pergerakan mahasiswa tidak bisa
dikekang oleh pemerintah sekalipun. Apalagi perjuangan ini adalah untuk
menyeru agama Allah agar diterapkan di seluruh aspek
kehidupan.
Matahari yang panasnya
tidak banyak terhalang oleh lapisan langit karena efek rumah kaca pun menjadi
saksi perjuangan ini. Memang ada kalanya lelah menggoda, namun lelah akan
menjadi bagian dari mahasiswa muslim indonesia sebagai pengobat dan kekuatan
yang memulihkan kembali energi yang sempat hilang hingga kelelahan hanya akan menjadi
saksi bahwa lelah kita diberikan hanya untuk Islam. Saya rasa lelah ini
kuranglah cukup di bandingkan dengan pengorbanan Rasulullah dengan para sahabat
ketika menjalani perang melawan kafir quraisy. Cuaca di Jakarta amatlah berbeda
dengan di arab sana. Panas yang mengantam Rasululllah masih jauh dari apa yang
saya rasakan kala itu. Namun perjuangan Rasullullah dan para sahabat tidak
lekas usai, perang tetap saja terjadi meski tanpa alas kaki. Lantas kita?
Apakah perjuangannya akan sampai sini saja? Tentu tidak.
Dan fajar kemenangan
itu akan segera tiba. Saya akan tutup dengan sebuah gelora yang di sampaikan
singa podium senior kala itu.”Al-Khilafah Wahdullah, Bisyarah Rosulullah, Wa
Nahnu Ansorullah”. Panas kian menjulang, rumput yang menguning pun menyiar bau
kekhasan, perjalanan ini mencapai puncak ketika ada perwakilan dari mahasiswa
mendatangi Istana Negara untuk memberikan resolusi terhadap persiden yang baru
dan disambut oleh angkatan bersenjata. Allahu akbar!! Resolusi mahasiswa Islam
di terima. Resolusi mahasiswa untuk menyeru pada Islam pada Presiden yang
terhormat.
Sebuah surat cinta dari
Sang pembuat aturan “ Hai orang-orang yang beriman, barang siapa yang menolong
(agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu” QS. Muhammad:7.
Mahasiswa, di kepalmu
perubahan dan inilah perjuanganku. Kapan giliranmu?
#ICMS2014